Dalam rangka mendukung peningkatan produksi hortikultura dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura bekerja sama dengan Dewan Pengurus Pusat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPP HKTI) dan Kwarnas Pramuka, telah melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) Soilblock pada Selasa (22/11) di Gedung Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Bimtek ini diikuti oleh 100 peserta yang merupakan anggota HKTI Pusat, HKI DKI Jakarta, Pemuda Tani Bogor, Perempuan Tani Bogor dan Pramuka Daerah.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa program yang telah dilaksanakan oleh Ditjen Hortikultura tersebut merupakan strategi untuk mendukung Kementerian Pertanian dalam memenuhi serta menjaga ketersediaan pangan melalui program Ketersediaan, Akses dan Konsumsi Pangan Berkualitas dengan memanfaatkan teknologi pertanian inovatif.

“Penerapan teknologi pertanian inovatif menjadi salah satu kunci keberhasilan program-program yang dijalankan oleh Ditjen Hortikultura. Teknologi inovatif mampu menciptakan usaha hortikultura menjadi lebih efisien dan efektif, serta mampu meningkatkan produktivitas,” ujar Anton, sapaan akrabnya.

Contoh teknologi pertanian inovatif di hulu, yakni di bidang pembenihan adalah alat pembuat media semai tercetak manual atau lebih dikenal dengan nama soilblock. Alat ini sudah memiliki Persyaratan Teknis Minimal (PTM) sejak 23 Agustus 2022, sehingga memiliki legalitas apabila diedarkan secara nasional.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha mengungkapkan, alat soilblock ini telah disosialisasikan dan ditetapkan pada daerah pengembangan agroindustri hortikultura atau food estate Temanggung, Wonosobo, Bantul, dan Garut.

“Pada umumnya, petani tertarik untuk menggunakan alat soilblock ini karena dirasa lebih efisien, efektif dan ramah lingkungan. Selain kawasan food estate, soilblock sudah kami sosialisasikan ke penerima manfaat di beberapa lokasi Kampung Cabai seperti Bogor, Cianjur, Kebumen, Banjarnegara, dan Garut melalui kegiatan bimbingan teknis cabai,” jelasnya.

Pembuatan seedling menggunakan alat soilblock terbukti lebih efisien, efektif dan ramah lingkungan apabila dibandingkan dengan pembuatan seedling secara konvensional dalam polybag atau wadah lainnya. Hal ini disampaikan oleh praktisi hortikultura sekaligus perancang alat soilblock asal Wonosobo, Eka Mardiana.

“Soilblock tidak menghasilkan limbah plastik dan tenaga kerja lebih efektif saat pemindahan seedling soilblock ke lahan karena tidak perlu melakukan penyobekan plastik polybag,” kata Eka.

Eka melanjutkan, setiap harinya, ia bisa menghasilkan 30.000 buah soilblock ukuran 3x3x3 cm. Sementara bila menggunakan plastik polybag, hanya bisa menghasilkan 1.500-2.000 buah per hari.

Sekretaris Jenderal Kwarnas Pramuka, Bachtiar Utomo dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Ditjen Hortikultura atas dukungan pelaksanaan bimtek soilblock yang diberikan. Bimtek ini merupakan upaya HKTI dan Gerakan Pramuka seluruh Indonesia untuk mendukung kebijakan program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi inovatif dalam usaha pertanian.

“Ke depannya, kerja sama dan sinergitas program antara HKTI, Pramuka dengan Kementan atau pemangku kepentingan terkait lainnya diharapkan tetap terjaga guna mewujudkan ketahanan pangan nasional,” pungkas Bachtiar.