Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Hortikultura bersama Komisi IV DPR RI dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan peninjauan langsung Kampung Alpukat yang berada di Dusun Kalibening, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang pada Kamis (17/11). Peninjauan ini bertujuan untuk melihat potensi dan meningkatkan produksi buah alpukat di Kabupaten Semarang.

Kabupaten Semarang merupakan sentra utama penghasil komoditas alpukat di Provinsi Jawa Tengah. Hal ini terlihat dari nilai produksi alpukat tahun 2021 di Kabupaten Semarang paling tinggi di antara kabupaten lainnya di Jawa Tengah, yakni mencapai 20.379 ton.

Alpukat yang banyak dikembangkan di Kabupaten Semarang adalah varietas Kalibening dengan karakteristik bentuk buah lonjong, warna kulit hijau mengkilap, ukuran besar, warna daging kuning, dan rasanya manis agak pulen.

“Permintaan terhadap buah alpukat sangat tinggi, baik di pasar global maupun pasar modern. Di sini, kami ingin meninjau langsung potensi Kampung Alpukat di Dusun Kalibening agar dapat memenuhi permintaan tersebut,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto.

Prihasto melanjutkan, secara kualitas, buah Alpukat Kalibening ini memang memiliki potensi untuk masuk ke pasar besar dan ekspor. Namun, perlu dipastikan ketersediaan benih indukannya sudah mencukupi.

“Untuk memenuhi permintaan pasar, bukan hanya kesanggupan petani yang diperlukan. Jaminan tersedianya benih induk juga harus diperhatikan agar kualitasnya juga terus terjaga,” jelas Prihasto.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi mengamini pernyataan tersebut. Menurut Dedi, terjaganya kualitas itu adalah yang utama.

“Saran saya, teknologi untuk mengembangkan Alpukat Kalibening ini harus dijaga, disimpan baik-baik di sini saja agar produksinya tidak berlebih, sehingga kualitas tetap terjaga baik dan harganya stabil, tidak anjlok,” kata Dedi.

Kepala Dusun Kalibening, Mulyanto mengungkapkan bahwa Alpukat Kalibening ini telah menjadi unggulan Kabupaten Semarang dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga Dusun Kalibening.

“Setiap tahunnya, Kelompok Tani Ngudi Rahayu II mampu memproduksi 50.000 benih alpukat. Berkat alpukat ini, dusun kami yang tadinya nomor terakhir, sekarang menjadi unggulan Desa Kebonadem dan untuk alpukat, unggulan Jawa Tengah,” ungkap Mulyanto.

Saat ini, Alpukat Kalibening telah dipasarkan langsung ke buyer yang datang ke kampung dan melalui program CSR perusahaan. Keterbatasan lahan membuat Alpukat Kalibening belum mampu masuk ke pasar yang lebih besar.

“Saya berharap Kementan bisa membantu memperkenalkan Alpukat Kalibening ke masyarakat Indonesia lebih luas, sehingga bisa dikembangkan di daerah lain dan mampu memenuhi permintaan pasar,” pungkas Mulyanto.