Para petani di kawasan Kelurahan Sasake, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Berat (NTB) semringah. Pasalnya mereka merasakan dampak dari kegiatan Farm Field Day (FFD) yang dilaksanakan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan).

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Lombok Tengah, Fadjar Sapto Utomo mengatakan bahwa rangkaian kegiatan acara dimulai dengan pelaksanaan ubinan di lahan Keompok Tani Pade Jujur II. Pada lahan tersebut, petani berhasil panen dengan total 5,2 ton per hektare varietas padi Inpari 32.

Dia mengataka bahwa program FFD yang notabene bagian dari Climate Smart Agriculture (CSA) SIMURP (Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project), mampu meningkatkan kompetensi petani. Lewat FFD, petani berbagi pengalaman sekaligus saling sharing pengenai implementasi CSA.”Mudah-mudahan kedepan bisa terus berlanjut dan semakin meningkat,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi. Dedi menjelaskan bahwa FFD merupakan salah satu metode pemberdayaan petani melalui pertemuan antar petani, peneliti, dan penyuluh untuk saling bertukar informasi. Khususnya tentang teknologi pertanian yang diterapkan dan mendapatkan umpan balik dari petani mengenai masalah dan hambatan yang dihadapi dalam bertani.

“FFD dan panen di lokasi Sekolah Lapangan (SL) juga merupakan salah satu kegiatan dari SIMURP. Kegiatan ini dilakukan untuk menggali potensi, masalah, dan hambatan yang ditemui oleh para petani dalam melaksanakan kegiatan usahatani,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan kalau pertanian cerdas iklim atau CSA proyek SIMURP memiliki dampak yang positif untuk pertanian. CSA SIMURP bisa meningkatkan produktivitas produksi tanaman dan pendapatan petani.

“SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman. SIMURP juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). SYL-sapaannya- mengatakan kegiatan CSA selain meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, CSA juga mampu menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Menurut Mentan, dengan SIMURP diharapkan petani penerima manfaat SIMURP dapat meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dengan mengedepankan penggunaan air yang efisien serta tanpa bergantung pada kondisi iklim yang berubah.