LOMBOK TENGAH,Mekraf.id – Petani mendapatkan edukasi tentang fasilitas irigasi strategis dan rehabilitasi  (SIMURP) dari Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan (BPPP) Provinsi NTB.

Edukasi ini diberikan untuk meningkatkan kapasitas petani di Kabupaten Lombok Tengah. Kepala Balai Pelatihan Pertanian dan Perkebunan NTB, H Hendra Yulistiono mengatakan, kegiatan SIMURP ini hanya dilakukan di satu Kabupaten di Provinsi NTB, yakni Lombok Tengah.

Edukasi ini menyasar enam Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dan 336 kelompok tani. “Sasaran dari SIMURP selain para petani, juga penyuluh pertanian. Jadi kita buat kegiatan Farmers Field Day (FFD) dalam rangka penguatan balai penyuluh pertanian,” katanya saat menghadiri kegiatan fasilitasi modernisasi irigasi strategis dan rehabilitasi mendesak untuk peningkatan kapasitas petani di Lingkungan Sasake Kelurahan Sasake, Praya Tengah. Kegiatan yang dilakukan mulai dari bagaimana menjadi petani milenial, kegiatan demplot dan berbagai inovasi lainnya.

Salah satunya adalah penguatan BPP untuk memajukan para petani yang ada di daerah itu. “Kami sasar penyuluh juga, karena memang teman-teman penyuluh yang mempunyai kelompok binaan. Jadi penyuluh yang nantinya melakukan Bimtek atau Dempolt hingga pengawalan terkait dengan teknologi untuk kegiatan demplot ke depan,” katanya.

Kegiatan SIMURP ini tidak lain sebagai upaya untuk optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan.

Hal ini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim. “Termasuk ini upaya kita dalam mengurangi resiko gagal panen dan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) serta meningkatkan pendapatan petani khususnya di daerah irigasi SIMURP,” katanya. Disampaikan bahwa banyaknya lahan pertanian yang hanya mengharapkan air tadah hujan maka memang penting untuk modernisasi irigasi strategis dan rehabilitasi mendesak ini. Karena memang tidak bisa dinafikan di daerah yang hanya mengandalkan daerah tadah hujan Indeks Penanaman (IP) sangat rendah. “Maka penting berbagai upaya untuk mengatasi persoalan tersebut. Kalau memang mau mengembangkan pertanian yang lebih maju dengan kondisi daerah tadah hujan ini memang sangat penting modernisasi irigasi strategis dan rehabilitasi mendesak ini,” katanya.