Jakarta,Mekraf.id – Melonjaknya harga cabai sejak awal Juni lebih disebabkan oleh produktivitas pertanaman yang menurun sebagai dampak cuaca ekstrim. Intensitas curah hujan tinggi di sepanjang tahun, terhitung sejak Oktober 2021 hingga Juni 2022. Data BMKG menyebutkan, curah hujan pada periode April-Mei 2022 cenderung lebih tinggi dibandingkan periode April-Mei 2021. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan peningkatan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Phytophthora, spp. penyebab penyakit busuk daun pada cabai, dan juga penyakit antraknosa.

Kondisi ini bukan berarti tidak ada produksi, hanya saja terdapat penurunan luas tambah tanam maupun terdapat kerusakan tanaman akibat kondisi cuaca yang ekstrem. Ketersediaan aneka cabai (Cabai Rawit Merah, Cabai Rawit Hijau, Cabai Merah Keriting dan Cabai Besar) pada Bulan Juni hingga Juli masih surplus untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Berdasarkan angka total produksi cabai besar nasional pada bulan Juni sebesar 78.040 ton sedangkan kebutuhan cabai besar bulan Juni diperkirakan 76.317 ton sehingga neraca cabai besar surplus 1.723 ton. Produksi cabai rawit sebesar 73.562 ton sedangkan kebutuhan cabai rawit diperkirakan 72.159 ton sehingga neraca cabai rawit surplus sebesar 1.403 ton.

Produksi bulan Juli sebesar 99.949 ton dan cabai rawit sebesar 209.673 ton. Kebutuhan cabai besar bulan Juli diperkirakan 97.731 ton sehingga neraca cabai besar surplus 2.218 ton, sedangkan kebutuhan cabai rawit diperkirakan 87.308 ton sehingga neraca cabai rawit surplus sebesar 22.365 ton.

Pasokan tetap mengadalkan daerah sentra Jawa yang memiliki dataran tinggi serta daerah luar Jawa, seperti Sulsel, Sulteng dan Sumut yang memiliki produksi lebih. Curah hujan ekstrim yang cenderung masih tinggi di Pulau Jawa tidak dipungkiri berdampak pada volume panen

Sesuai dengan arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo agar Kementan menjamin ketersediaan komoditas pangan strategis termasuk cabai. Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto selalu menggerakkan seluruh jajarannya untuk memonitor kondisi pertanaman cabai di lapangan dan melakukan upaya-upaya untuk meredam gejolak harga agar tidak berkepanjangan.

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto bersama dengan pejabat Pemda setempat melakukan monitoring stok cabai sekaligus panen cabai di Kabupaten Temanggung, yang juga merupakan Kawasan Food Estate Hortikultura. Pada kesempatan tersebut, dirinya mengunjungi dua kecamatan sentra cabai di Kabupaten Temanggung yaitu Ngadirejo dan Bulu.

“Monitoring dilakukan untuk mengetahui kondisi stok cabai di lapangan dan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat sesuai dengan sumber daya yang tersedia,” ujar Prihasto, Minggu (26/6).

Anton memaparkan, Ditjen Hortikultura pada 2022 melakukan serangkaian langkah prefentif untuk menjaga sentra panen terus berproduksi antara lain melalui fasilitasi sarana produksi kawasan cabai seluas 5.500 ha, fasilitasi benih cabai seluas 1.000 ha dan Gerakan Pengendalian OPT Cabai seluas 1.192 ha.

“Pada 2022 Kabupaten Temanggung mendapat alokasi fasilitasi sarana produksi pengembangan Kawasan cabai seluas 140 Ha,” tambah Anton.

Anton juga berkesempatan panen cabai rawit bersama KT. Muda Sejahtera di Desa Kec, Ngadirejo dan KT Tunas Jaya Sejahtera di Desa Pasuruan Kecamatan Bulu. Dirinya merasa puas dan takjub terhadap hamparan pertanaman cabai yang ada di kedua kecamatan tersebut.

“Saya optimis bahwa stok cabai di Temanggung cukup walau harga masih relatif tinggi. Petani harus tetap menjaga semangat dan intensif melakukan perawatan pertanaman serta cermat memilih varietas yang akan ditaman dan berasal dari benih sumber yang sehat,” terangnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto mengatakan bahwa stok cabai baik cabai besar maupun cabai rawit pada bulan Juni hingga Agustus di Kabupaten Temanggung mengalami surplus.

“Luas panen cabai besar dan cabai rawit Temanggung masing-masing menduduki peringkat kedua dan ke empat di Provinsi Jawa Tengah. Kontribusi panen cabai besar terluas berasal dari kecamatan Bulu, sedangkan untuk cabai rawit berasal dari kecamatan Ngadirejoapar,” pungkasnya.