Yogyakarta,Mekraf.id – Memasuki minggu kedua Bulan Ramadhan, Tim pemantauan harga pangan Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DI. Yogyakarta, melakukan survei ketersediaan stok dan harga untuk 12 komoditi pangan di pasar Beringharjo dan Pasar Sleman hari Rabu13/4). Didampingi enumerator pedagang eceran Dinas Perdagangan, Sumarto diperoleh laporan untuk ketersediaan stok pangan Kota Yogyakarta aman dan harga stabil.

Berdasarkan survei di Pasar Beringharjo menunjukkan, penurunan harga minyak goreng curah dari minggu lalu menjadi sebesar Rp.18.000,-/liter. Harga beras Rp.9.000 sampai Rp.10.000/kg. Bawang merah Rp.18.000,- sampai Rp.30.000,- harga bawang putih Rp.24.000/kg, harga cabai rawit dan cabe merah keriting mengalami penurunan dari minggu lalu dari Rp.30.000 menjadi Rp.20.000/kg. Harga gula putih curah Rp.13.000/kg. Harga jagung Rp.7.000,-/kg turun dibanding minggu lalu Rp.7.500,-/kg. Harga kedelai impor Rp.13.000,-/kg.

Sedangkan, hasil dari survei ke pedagang daging ayam dan daging sapi menunjukkan harga dan pasokan yang stabil. Daging ayam didatangkan dari peternak lingkup kabupaten belum mengalami kenaikan permintaan dan harga stabil di Rp.37.000/kg. Harga daging sapi mencapai Rp.125.000,-/kg dengan permintaan masih stabil. Sedangkan untuk telur ayam harganya turun dibanding minggu lalu Rp.1.000,- dan harga saat ini di Rp.24.000/kg. Salah satu petugas di bidang peternakan Dinas Perranian DIY menyampaikan bahwa terdapat 496 kandang peternak telur ayam di DIY sehingga dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan.

Sementara itu, hasil pantauan ke tingkat distributor gula putih yaitu CV. Takari yang terletak di seberang Pasar Beringharjo terdiri dari gula konsumsi sebanyak 7 ton dan gula rafinasi sekitar 1 ton dengan menambah stok setiap minggu sebanyak 30 ton sedangkan mendekati idul fitri biasanya mencapai 60 ton perminggu untuk persiapan setelah libur lebaran. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Sugeng Parwoto, kondisi di atas masih tergolong aman.

Sugeng menyebutkan untuk mengantisapi kelangkaan stok dan kenaikan harga pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Yogya melakukan intervensi dengan melakukan Kegiatan Pasar Mitra Tani yang dilakukan setiap hari Senin-Jumat dengan mobil box keliling menjual bahan pokok dan berpindah lokasi setiap hari.

Ketersediaan Kedelai
Sementara itu terkait pasokan kedelai, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Yuris Tiyanto menyatakan strategi untuk penyediaan kedelai dapat dilakukan dengan dua cara yakni pertama CB1 yaitu melakukan pemantauan terhadap penyaluran komoditas strategis dari produsen ke konsumen. Kedua, CB2 yaitu mendekatkan stok dari produsen/ suplier ke pengarajin/pengguna tahu tempe. Hal ini disampaikan pada saat Rapat Koordinasi Monitoring dan Pengawalan Harga Komoiti Strategis dalam Rangkan HBKN 2022 di Provinsi DI Yogyakarta yang dilaksanakan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DI Yogyakarta pada hari Kamis (14/4)

Saat peninjauan di Pengrajin tahu di Kabupaten Sleman, diperoleh informasi ketersediaan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu tersedia dalam jumlah mencukupi, Irwanto, salah satu pengrajin disana menyatakan bahan baku kedelai yang biasa digunakan menggunakan kedelai KW 2 (ada biji pecah) dengan harga Rp12.200/kg sedangkan untuk yang KW1 (tanpa biji pecah) harga Rp12.500 – Rp12.800/kg.

Pengakuan para pengrajin disana bahwa kedelai lokal lebih disukai karena rasanya lebih gurih dan jumlàh patinya lebih banyak dibanding kedelai impor. Harga kedelai lokal di Pasar Ngino Sleman terpantau sebesar Rp12.500/kg. Namun kendalanya pada ketersediaan kedelai lokal jumlahnya terbatas sehingga pengrajin menggunakan kedelai lokal untuk campuran supaya tahu lebih gurih enak. Di Desa Krapyak terdapat 60 Rumah produksi tahu yang telah berlangsung turun temurun 3 generasi. Hanya saja peralatan yang digunakan terbilang cukup konvensional dan mesin yang sudah tua sehingga perlu peningkatan kapasitas dengan peralatan yang memadai.

Menanggapi hal ini, Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan Kementan melakukan Langkah-langkah strategis untuk menjamin ketersediaan bahan pokok pangan selama puasa dan menjelang lebaran. Ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dilihat dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik (netto) yang ditentukan produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah serta bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya harus benar-benar terdata dengan tepat dan yang terpenting terawasi agar tidak dimainkan pihak tertentu.

“Sesuai arahan Bapak Mentan Syahrul Yasin Limpo kita dorong sinergi dengan daerah, stake holders untuk memastikan kecukupan pangan dan pengawasan agar tidak ada pihak yang memainkan untuk meraup untung tidak wajar. Upaya -upaya peningkatan produksi pun terus dilakukan sejalan dengan salah satu program Kementerian Pertanian yaitu ketersediaan dan akses pangan yang berkualitas,” pungkas Suwandi