BULUKUMBA, Mekraf.id , Keberhasilan Program Desa Mandiri Benih (DMB) yang di gulirkan oleh Kementerian Pertanian amat sejak tahun 2015 sd 2018, memberikan kontribusi nyata dalam upaya “penyediaan benih unggul bersertifikat insitu”.

Salah satunya adalah mantan penerima program Desa Mandiri Benih “PB Intani Jaya” (Ahmad Faisal), Desa Penrelompoe, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, yang saat ini kemampuan produksi benih padi mencapai 1.000 ton per tahun dengan jangkauan pemasaran hingga ke luar provinsi Sulawesi Selatan.

Ahmad Faisal salah satu petani penerima DMB Tahun 2018 mengakui, “Awal mulanya menerima bantuan DMB seluas 10 Ha, dengan hasil produksi 50 ton, tahun demi tahun mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2021 luasan penangkaran bertambah menjadi 1 desa lebih dengan kemampuan produksi bisa mencapai 1.000 ton “ ungkap Faisal.

“Setiap tahunnya, kami mensuplai kebutuhan benih pasar bebas maupun pemenuhan program pemerintah serta bermitra dengan produsen benih besar BUMN (PT. SHS) dan PT. Harmoni Mega”, ungkap Faisal. “Produksi Benih Padi yang kami pasarkan meliputi varietas Mekongga, Ciherang, Inpari 32, dan Inpari 42,” tambahnya.

“Lantai jemur yang semula seluas 120 m2, saat ini menjadi 6 x lipatnya, pada saat panen raya lantai jemur kami tidak dapat menampung dikarenakan setiap tahun selalu bertambah kapasitas produksinya, dan selalu sewa lantai jemur kelompok tani sekitar bahkan sewa dryer kepada mitra BUMN terdekat “ kata Faisal.

Selanjutnya Faisal mengucapkan terima kasih kepada Kementarian Pertanian yang telah membantu program DMB yang sangat bermanfaat, ke depan kami sebagai petani sangat berharap adanya bantuan DMB semacam ini, dan mendapatkan bantuan dryer untuk mengatasi kendala penjemuran selama ini.

Dalam kesempatan yang sama MN.Jasman dari Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba mengatakan, dirinya terus mendukung kegiatan produksi benih PB Intani Jaya. Dengan bantuan DMB pada tahun 2018 terus berkembang menjadi produsen benih padi yang telah mengharumkan Kabupaten Bulukumba sebagai pemasok ketersediaan benih padi Provinsi Sulawesi Selatan.

“Selain bisa mencukupi kebutuhan kelompok sendiri dan bisa menekan biaya untuk perbenihan kelompoknya, juga bisa menjual benih keluar sehingga bisa meningkatkan nilai tawar terhadap hasil panen Anggota Kelompok yang sebelumnya hanya di jual gabah untuk konsumsi/beras kini bisa di jual berupa benih”, pungkas Jasman.

Hal senada disampaikan Kepala BPSB Provinsi Sulawesi Selatan Mario Mega, kegiatan DMB sangat baik di Kabupaten Bulukumba terdapat 16 penangkar DMB yang aktif mensuplai benih bersertifikat dan menghasilkan 1.200 ton per tahun, dan salah satunya PB Intani Jaya mampu memenuhi hampir 70% kebutuhan benih bersertifikat di Provinsi Sulawesi Selatan, benihnya dipasarkan ke Kabupaten Gowa, Bantaeng, Bone bahkan ke luar provinsi ke Sulawesi Barat, Sulawesi utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, NTT dan Papua.

“BPSB Sulawesi Selatan terus melakukan pembinaan dan evaluasi terhadap penangkaran benih yang dihasilkan ex DMB, selanjutnya masih diperlukan kegiatan untuk pengembangan DMB dan keberhasilannya dapat menjadi model daerah lain “ kata Mario.

“ Bahkan sehari sebelumnya dilakukan evaluasi DMB dari Tim Bapennas ke lokasi petani ex. penerima DMB di Kelompok Tani Bungung-Bungung (Dg. Tari), Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros “ tambah Mario.

Dari hasil wawancara penerima DMB, Daeng Tari, “Yang semula luas areal produksi benih 10 ha dengan produksi 25 ton per tahun, saat ini meningkat luasannya menjadi 30 ha dengan kemampuan produksi sekitar 200 ton/tahun “ ucapnya.

Setiap tahunnya kelompok tani Bungung-Bungung terus memproduksi benih padi bersertifikat dengan bermitra dengan BUMN PT. SHS “ ulas Tari. “ Kendala yang dihadapi saat ini, membutuhkan dryer (alat pengering), mengingat lantai jemur yang dimiliki saat ini tidak mampu mengatasi hasil panen calon benih “ tambahnya.

Catur Setiawan Koordinator Pengawasan Mutu Benih Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan bahwa penyediaan benih bersertifikat sebagai salah satu upaya yang dilakukan Ditjen Tanaman Pangan untuk membantu petani mendapat akses benih bermutu. Salah satu kegiatan secara spesifik yang telah dilakukan adalah pengembangan Desa Mandiri Benih (DMB) yang digulirkan sejak tahun 2015-2018.

“Program Desa Mandiri Benih tersebut tujuannya untuk meningkatkan kapasitas kemampuan petani agar mampu memproduksi benih untuk memenuhi kebutuhan di wilayahnya (insitu) secara mandiri dengan memberikan fasilitasi kepada kelompok tani/penangkar berupa gudang benih, lantai jemur, sarana produksi benih (benih sumber, pupuk, pestisida, sertifikasi dan prosesing benih), alat pengolahan dan pengemasan benih (seed cleaner, sealer, troly, kemasan, dll) serta alat angkut benih berupa motor roda tiga ” ucap Catur.

Sampai saat ini Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah berhasil mengembangkan 1.512 unit DMB dengan produksi sebesar 39.574 ton atau setara dengan 1,5 juta ha. Per unit (10 ha) dapat memproduksi benih sekitar 26,17 ton atau setara 1.046 ha.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan terobosan program Desa Mandiri Benih sangat nyata memberikan kontribusi untuk memenuhi produksi benih insitu, sehingga ke depan perlu dikembangkan secara kontinyu dan berkelanjutan terutama untuk daerah-daerah yang mengalami permasalahan dalam penyediaan benih bagi petani, dimana harus mendatangkan benih bersertifikat dari luar daerah tersebut dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan.