Jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), sangat penting memastikan ketersediaan pasokan cabai cukup. Beberapa upaya telah dilakukan Kementan dalam rangka menjaga stabilitas harga dan pasokan cabai menjelang HBKN, salah satunya dengan melakukan koordinasi secara intensif dengan para Champion Cabai Indonesia.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Hortikultura telah melakukan pertemuan secara langsung dengan Champion Cabai dari 10 (sepuluh) kabupaten sentra cabai, yakni Sumedang, Garut, Cianjur, Magelang, Kebumen, Banjarnegara, Kulonprogo, Temanggung, Malang dan Lombok Timur. Dari pertemuan tersebut, telah disepakati pembagian luas tanam, jadwal tanam dan proyeksi panen di 10 kabupaten lokasi tersebut guna mengantisipasi pengamanan pada HBKN 2022 dan 2023.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto optimis bahwa pasokan cabai tahun ini akan mencukupi, terutama untuk HBKN.

“Untuk menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri, kita harus pastikan agar stok tersedia dalam jumlah yang cukup. Kementan dan para Champion Cabai akan bersinergi untuk menjaga kestabilan harga cabai ini, salah satunya dengan mengamankan buffer stock khususnya di perkotaan yang tingkat kebutuhannya sangat tinggi,” ujar Anton, panggilan akrabnya.

Senada dengan pernyataan Anton, Ketua Champion Indonesia,Tunov Mondro Atmojo mengatakan bahwa pengamanan buffer stock HBKN 2022 akan diantisipasi champion dengan pengaturan pasokan pasar.

“Prinsipnya kami, para champion bersedia bersama-sama dengan pemerintah untuk mengamankan pasokan cabai pada HKBN,” tegasnya.

Dalam sepekan ini, harga komoditas cabai rawit merah sendiri mulai berangsur turun setelah sebelumnya mengalami lonjakan. Berdasarkan pemantauan harga di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) pekan lalu, harga cabai rawit mulai menyentuh di angka Rp 40.000 per kg setelah sebelumnya sempat berada di harga Rp 62.000 per kg.

Hasil pemantauan harga cabai di Magelang, harga cabai rawit merah di tingkat petani berkisar Rp 30.000 per kg. Menurut Didik, petani cabai asal Magelang, penurunan harga cabai disebabkan salah satunya yaitu adanya peningkatan volume petik di petani dalam volume yang stabil dan bahkan lebih besar dari biasanya.

“Harga cabai turun disebabkan oleh 3 hal, yaitu peningkatan volume petik di petani dalam volume yang stabil dan bahkan lebih besar dari biasanya, serapan atas permintaan industri turun sehingga panen bisa disuplai ke pasar, serta permintaan konsumen di PIKJ cenderung menurun,” jelas Didik.

Penurunan harga cabai rawit merah juga terjadi di Kediri, yakni berkisar antara Rp 32.000-35.000 per Kg. Hal ini karena pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Pare Kediri tersedia cukup besar, sekitar 21 ton.