Kementerian Pertanian (Kementan) kembali melaksanakan rangkaian kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Kedelai yang difokuskan di Kelompok Tani Sri Rejeki Kabupaten Gunung Kidul dan Kelompok Tani Mitra Lestari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini guna mengamankan produksi kedelai nasional.

Direktur Perlindungan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Takdir Mulyadi mengatakan kedelai merupakan bahan pangan yang cukup strategis dan Gunung Kidul dan Bantul adalah salah satu daerah sentra kedelai. Karena itu, untuk meningkatkan perekonomian petani, ia berharap animo masyarakat dalam menanam kedelai terus meningkat, yang tentunya didukung oleh stakeholder yang ada.

“Dalam menjaga kedelai ini, harus dilakukan upaya-upaya pencegahan, antisipasi sebelum ada serangan tentunya dengan menggunakan bahan pengendali yang ramah lingkungan,” demikian dikatakan Takdir yang hadir di lapangan pada kegiatan Gerdal dan disiarkan secara langsung melalui webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani, Kamis (17/3/2022).

“Upaya yang kita lakukan ini sudah bagus, jadi jangan ketika ada serangan baru kita kendalikan. Lakukanlah budidaya yang baik dan tepat agar tanaman kuat dan tahan terhadap hama dan penyakit,” tambah Takdir.

Sementara itu, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi DIY, Suharto Budiyono mengatakan dalam pengendalian OPT selalu menggunakan APH sehingga produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dan ramah lingkungan. Bahan kimia merupakan senjata terakhir.

“Selagi APH bisa digunakan, kita gunakan APH. Petani kita sudah bisa memperbanyak agensia hayati sendiri melalui pemberdayaan petani dalam program P4. Stok APH di DIY cukup aman untuk pengendalian selama 1 tahun,” ujarnya.

Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Kidul, Rismiyadi menyebutkan luas lahan untuk pertanaman kedelai masih di angka 3.544 Ha. Dari total bantuan seluas 2.067 Ha, 2.019 Ha sudah tanam dan saat ini pertumbuhannya cukup baik.

“Sampai saat ini belum ada laporan terkait serangan hama. Kita melakukan tindakan prefentif oleh regu pengendali tanaman yang dikomando oleh POPT. Diharapkan produktivitas bisa meningkat dari 1,3 ton perhektar menjadi 1,5 ton perhektar, dengan demikian Gunung Kidul bisa turut berkontribusi dalam pencapaian produksi kedelai nasional 1 juta ton tahun ini,” sebutnya.

Wakil Bupati Gunung Kidul, Heri Susanto yang juga hadir secara langsung menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya Gerdal OPT ini. Menurutnya, dalam konsep ekonomi kerakyatan, untuk hilirisasi komoditi yang paling penting adalah produktivitas dan jika hasilnya mencukupi, UMKM akan berkembang.

“Terima kasih saya sampaikan kepada pemerintah pusat yang telah mensupport dan mendukung peningkatan kedelai di Kabupaten Gunung Kidul. Ini sebuah momentum yang baik dimana pangan merupakan kebutuhan dasar yang sangat prinsipil yang tidak mungkin bisa kita lewatkan begitu saja. Kami sangat konsen dalam pertanian karena itu kuncinya peningkatan kesejahteraan,” ucap Heri.

Perlu diketahui, pada acara Gerdal ini diselingi pula agenda wawancara dengan petugas dan kelompok tani yang dipimpin Direktur Perlindungan. Jayadi, Petugas OPT Gunung Kidul mengungkapkan dalam rangka mendekatkan pengembangan agen hayati ke petani agar pemanfaatannya lebih luas ditempatkan 3 titik pengembangan APH di Gunung Kidul yang mudah dijangkau.

“Harapannya, dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi petani untuk tidak menggunakan APH. Ada program pemberdayaan juga berupa P4 yang memungkinkan petani bisa membuat sendiri APH,” ujarnya.

Ketua kelompok tani Sri Rejeki, Sumilan menceritakan bahwa kelompoknya menerima bantuan OPLA berupa sumur dangkal di 3 titik dan pompanisasi. Dampaknya, saat ini di lahan seluas 500 ha bisa tanam 3 kali yang mana sebelumnya hanya bisa 2 kali tanam.

“Selaku penggerak kelompok tani, saya berharap untuk meningkatkan animo warga dalam menanam kedelai mohon ada pendampingan sampai pasca jual,” harapnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan mengungkapkan penyebab di balik ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Salah satu penyebab adalah karena produktivitas produksi kedelai dalam negeri yang belum mampu mencapai target potensinya.

“Berangkat dari kondisi ini, di tahun ini Menteri Pertanian Syahrul Yaisn Limpo menargetkan produksi kedelai mencapai 1 juta ton. Gerakan pengendalian ini merupakan salah satu upaya dalam pengamanan produksi kedelai nasional,” tutur Suwandi.