Kementerian Pertanian mendorong tumbuhnya pertanian perkotaan yang mengoptimalkan teknologi dengan memanfaatkan keterbatasan lahan yang ada. Terlebih dimasa pandemi ini kebutuhan keluarga dari pekarangan rumah, sangat membantu ekonomi keluarga.

Strategi Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ketahanan pangan serta daya saing Produk tertuang dalam 5 Cara Bertindak (CB), meliputi 1)Peningkatan kapasitas produksi 2)Diversifikasi pangan 3)Penguatan cadangan & sistem ligistik pertanian 4) Pengembangan pertanian modern 5)Gerakan tigakali eksport. Salah satu upaya peningkatan produksi pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya diperkotaan adalah melalui urban Farming yang masuk dalam CB2 Dan CB4. Urban Farming adalah praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi

Bambang Pamuji Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mengungkapkan bahwa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah mengimplementasikan Urban Farming antara lain berupa Agro Edu Wisata (AEW) yang merupakan kawasan pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi. ” Kita sudah desain dan memiliki skala ekonomi yang memadai, bersifat tematik, dan melalui pendekatan inovasi pertanian yang difungsikan sebagai tempat pelatihan, pemagangan, kemitraan usaha, pusat diseminasi dan advokasi bisnis ke masyarakat luas serta sekaligus menjadi kawasan wisata yang aman ” kata Bambang. Lebih lanjut Bambang menyampaikan bahwa salah satunya AEWO mulyaharja di Bogor yang mengembangkan kawasan wisata padi organic.” Lokasi AEW lainnya Bukit Kedelai Cibulan Kuningan, Gunung Dago Bogor, Kendalpayak Malang, Cigalontang Tasik, Garuda Mupuk Ciamis, IP2TP Sukamandi & Muara, Bukit Batu Magelang, Mernek Jenek Cilacap, dan Bukit Tampomas Kebumen”, jelas Bambang.

Disamping AEW juga dikembangkan Integrated farming berbasis jagung dengan mengintegrasikan dengan komoditas hortikultura, peternakan, perkebunan dan merupakan Kawasan show windows dengan lokasi diutamakan di pinggir jalan raya. Pengembangan hidroponik dengan berbagai komoditas pangan alternatif juga salah satu kegiatan dalam rangka pengembangan urban farming. Disamping itu Kementan juga sudah mengembangkan P2L (Pekarangan PAngan Lestari) yang dikelola oleh BKP, merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang secara bersama-sama mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan, serta pendapatan. AEW ini memberi manfaat pendapatan bagi masyarakat setempat baik dari hasil budidaya maupun dari pendapatan objek wisata.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan bahwa sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian agar menjaga pangan kita tetap aman, terutama disaat pandemi Covid-19, setiap tahun kebutuhan konsumsi beras sebanyak 30 juta ton setara 110 kg/tahun/kapita

” Pertambahan penduduk sekitar 3 juta orang/tahun, sementara lahan sawah dipinggiran kota mengalami alih fungsi lahan yang berdampak pada potensi penurunan produksi sekitar 500 ribu ton beras, sementara peningkatan kebutuhan beras setara 360.000 ton/tahun, ”, ungkap Suwandi. Sehingga produksi harus bertambah, dengan meningkatkan produktivitas minimal 6 ton/ha, perluasan areal tanam baru, penanaman lahan tidur, peningkatan Indeks Pertanaman dengan Gerakan IP400 serta upaya lain sehingga swasembada pangan seperti tahun 1984 dapat tercapai di tahun 2022 ini.

Hal ini di sampaikan dalam Bimbingan Teknis Sosialisasi Propaktani episode 327, (10/2) Direktorat Jenederal Tanaman Pangan bekerjasama Dengan ISWI (Ikatan Sarjana Wanita Indonesia) mengangkat topik Peluang Urban Farming Mendukung Peningkatan Produksi & Menjaga Stabilitas Pangan. Salah satu keynot speech dalam BTS Propaktani ini adalah Dra.Euis Saedah, Msc yang merupakan Ketua I ISWI

Retno Sri Endah Lestari Ketua Umum ISWI, menyebutkan bahwa aktivitas urban Farming telah banyak dilakukan masyarakat sebelum pandemi COVID-19, namun belum maksimal dan baru pada masa pandemi inilah masyarakat lebih giat melakukan urban farming karena memiliki waktu lebih, untuk merawat berbagai jenis tanaman. “Manfaat Urban Farming dapat untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-haru, bahkan, tak sedikit yang menjadikannya sebagai peluang usaha baru, serta juga bisa meningkatkan kesejukan suasana perkotaan, karena Masyarakat dapat memanfaatkan lahan pekarangannya untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan maupun sayur dan buah” jelas Retno

Ditempat yang sama Raffi Paramawati Wakil Ketua Divis Iptek ISWI menyampaikan “Beberapa manfaat urban farming, antara lain mampu menghasilkan produk bermutu secara kualitas maupun kuantitas; dapat menjadi solusi dalam menyerap tenaga kerja di perkotaan; menjadi bisnis yang menguntungkan; dapat menyehatkan perkotaan; dan menjadi salah satu pendukung Ketahanan Pangan Nasional”, paparnya.

Selanjutnya Sylviana Murni Ketua Komite II DPD RI, menjelaskan bahwa salah satu kendala terbesar yang dihadapi petani adalah pemasaran. Oleh sebab itu kemitraan dengan industri menjadi sangat penting karena dapat memberikan kepastian usaha bagi petani. Petani tidak perlu lagi merasa cemas hasil buminya tidak dapat dipasarkan. “Kemitraan memungkinkan petani mendapatkan pendampingan mengenai cara pengelolaan tanaman pertanian secara benar. Selain itu berbagai bantuan juga mudah didapatkan, karena dengan kemitraan industri mendapat kepastian pasokan bahan baku”, jelas Sylviana. (/PropaktaniTV)