Efek pandemi COVID-19 berdampak pada keterbatasan pekerjaan, banyak pegawai yang dirumahkan dan hilang perkerjaannya namun sektor pertanian hadir sebagai solusi dimana begitu luas dan beragam serta mampu bertahan di masa pandemi ini. Banyak pemikiran awam menyebutkan bahwa pertanian itu hanya berkutat di cocok tanam saja, padahal usaha di sektor pertanian memiliki peluang usaha dan dapat dijadikan sumber pendapatan yang menjanjikan. Usaha di bidang pertanian antara lain pembibitan, penyediaan pupuk, pakan ternak, sewa alsintan dan pengolahan hasil pertanian, di hilir bisa seperti industri farmasi, industri makanan dan industri energi terbarukan.

Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Suwandi pada BTS Propaktani episode ke 323 dengan tema ‘Kiat Sukses Wirausahawan Pertanian di Kalimantan Selatan’, menyampaikan bisnis pertanian itu menjanjikan, bertani itu menyenangkan dan petani itu hebat. Hal tersebut dibuktikan saat pandemi seperti ini pertanian tetap tumbuh dan siap memasok pangan bagi negeri. Untuk mencapai hal tersebut harus ada perubahan yang lebih baik seperti apa yang diperintahkan oleh Bapak Menteri Pertanian.

“Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan challenge untuk kita semua. Pertama untuk meningkatkan produksi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kedua, produktivitas di atas 6 ton per hektar. Ketiga, swasembada pangan seperti zaman dahulu tahun 1984 yang rencana akan dilaunching Bulan Agustus ini. Saya mohon seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memberikan konstribusi untuk mencapai hal ini bagaimana mewujudkan swasembada pangan. Sudah terbukti dalam waktu 3 tahun terakhir Indonesia tidak ada impor beras umum yang masuk dan kita mampu bertahan dalam masa sulit ini berkat kerja keras semua mulai dari petani, penyuluh, pemerintah kabupaten kota serta provinsi yang luar biasa dan Bulan Agustus nanti kita semua harus bisa mengejar itu,” tegas Suwandi.

Peran wirausaha di Kalimantan Selatan banyak peluang yang bisa diraih, para enterpreuner tidak harus milenial tapi yang sudah usia juga bisa. Peluang bisnis bagi kewirausahaan di sektor pertanian, Pertama yaitu taksi alat mesin pertanian (alsintan) dengan membentuk UPJA.

Kedua, bisnis perbenihan atau penangkaran benih, saat ini sedang favorit benih genjah yang unggul karena sekarang jamannya serba cepat, jika bisa menggunakan benih yang umum pendek dan hasilnya lebih bagus kenapa harus menggunakan benih umur panjang. Ketiga, bisnis pupuk hayati baik dalam bentuk padat atau cair. “Saya berharap setiap kelompok tani mampu membuat pupuk hayati sendiri terlepas ada dukungan dari pemerintah dengan pupuk subsidi namun saya himbau untuk bisa mandiri tanpa bergantung pada subsidi pemerintah,” Harap Suwandi.

Pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Pertanian TPH Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman mengatakan hari ini merupakan kesempatan yang baik bagaimana sesuai dengan arahan Bapak Direktur Jenderal tadi pada poin ketiga pupuk organik dan pupuk hayati bisa kita buat sendiri. Semua ini adalah upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan keterbatasan pada masa pandemi ini namun produksi tetap harus naik.

“Dalam masa seperti ini dimana terdapat keterbatasan kita harus kreatif dalam membuka wawasan dengan menciptakan sesuatu yang murah, nyaman dan bisa meningkatkan produksi dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan sesuai dengan saran Bapak Dirjen tadi,” ujar Syamsir. Menurutnya jika menggunakan bahan kimia terus menerus maka tanah kita tidak akan mampu pasti akan habis oleh karena itu kita harus kembali ke alam. Untuk berubah harus dimulai dari kita sendiri yang mengubahnya, swasembada pangan saya yakin kita mampu mengembalikannya.

Sementara itu, Kepala BPTP Kalimantan Selatan, Muhammad Amin mengatakan BPTP Kalimantan Selatan telah melakukan listen learn pendampingan pada Kelompok Tani Budidaya di Kabupaten Tanah Laut dengan jumlah keanggotaan sebanyak 40 petani dapat berbisnis dengan memproduksi pupuk organik dan pengolahan pakan ternak sapi berbasis limbah tanaman pangan.

“Kami melakukan pendampingan terhadap Kelompok Tani Budidaya di Kabupaten Tanah Laut. Ini merupakan contoh pertanian modern dan mandiri secara harfiah. Kelompok ini sudah bermitra dengan Bank BRI untuk KUR dan PT Jasindo untuk asuransi usaha ternaknya,” tandas Amin. Keberhasilan kelompok ini disampaikan Amin tidak lepas dari keterpaduan pengembangan corporate farming dengan pengembangan ekonomi di wilayah setempat lalu adanya ketersediaan lembaga baik pemerintah atau non pemerintah yang mampu berfungsi sebagai fasilitator dan terkahir karena kehadiran sosok manager professional yang dapat memanage dan memiliki pengalaman serta jiwa sosial tinggi.

Penyuluh Pertanian Kabupaten Barito Kuala, Sadikun yang hadir secara langsung untuk mempraktekkan proses pembuatan pupuk organic menjelaskan kiat suksesnya merintis usaha dari awal hingga berhasil, bahkan beberapa media sudah meliput sukses story pak sadikun dalam mengembangkan pupuk organic dengan memanfaatkan limbah menjadi bahan yang bernilai jual. Dalam satu bulan bisa memproduksi 30-45 ton pupuk organic dengan keuntungan rata-rata 700 ribu setiap tonnya. Sadikun menyampaikan bahwa awal mula tercetus usaha kami ini karena menumpuknya limbah ternak yang menggunung dan menjadi masalah untuk masyarakat sekitar, bahkan kami mendapatkan kecaman karena aktivitas peternakan ini. Oleh karena itu, kami mencoba mencari solusi dan berhasil mendapatkan pencerahan berkat bantuan dari instansi pemerintah.

“Kami mendapatkan supply yang luar biasa secara bertahap dari pemerintah dari tahun 2013 -2015 untuk pembuatan mekanisasi kandang dan gudang. Dahulu kami melakukan semua dengan manual namun setelah mendapatkan bantuan usaha kami jauh lebih mudah. Kemudian pihak perbankan juga memiliki peran dalam permodalan usaha. Sejauh ini pasar kami di wilayah Kabupaten Barito Kuala hingga ke Kota Banjarmasin bahkan kami sedang merintis di 2 kabupaten Provinsi Kalimantan Tengah yakni Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas,” Imbuh Sadikun.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Gapoktan Rawa Makmur, Sugiannur juyga menceritakan sukses storynya bagaimana mulai merintis usahatani di bidang pupuk dan pestisida organik. Ia mengatakan bahwa kami mengembangkan klinik Perlindungan Hama Terpadu dimana tempat itu sebagai wadah para petani untuk berkonsultasi menyelesaikan masalah dan dijadikan tempat pembelajaran untuk meningkatkan kualitas mutu dan efektivitas dalam berbudidaya tanaman. Klinik tersebut telah mampu menghasilkan pestisida nabati sendiri, sehingga walaupun harga pestisida dan fungisida tinggi kami tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut. Kami juga telah mampu membuat pupuk organik sendiri baik cair maupun granul.

“Petani harus kreatif dalam mengatasi permasalahan harga pestisida dan pupuk yang tinggi, sehingga ketika nanti sudah tidak ada subsidi yang diberikan kami mampu tetap bertahan dan terus akan berkembang dengan menggunakan hasil olahan pupuk dan pestisida yang kami produksi sendiri,” pungkas Sugiannur