Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan sosial, ekonomi, sumberdaya, kesamaan komoditas dan keakraban untuk meningkatkan serta mengembangkan usaha anggota.

Kumpulan beberapa kelompok tani dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha tergabung dalam Gabungan Kelompoktani. BTS PraPaktani episode 322 tanggal 7 Pebruari 2022 mengangkat tema Revitalisasi Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani, dipandu oleh Ranny Mutiara Fungsional Analis kebijakan Madya Kementerian Pertanian.

Suwandi, Dirjen Tanaman Pangan menyampaikan bahwa jaringan kolaborasi kelompok tani akan eksis apabila dia bisa mengahadirkan seluruh permasalahan petani, bisa mentransfer knowledge aspek-aspek teknologi, dan mampu berkolaborasi dengan seluruh stake holder.

Suwandi menerangkan kelompok tani mesti bisa naik kelas dalam bentuk Gapoktan Korporasi, disitu ia anggap seperti membuat payung, payung tempat berlindung petani-petani anggotanya dari berbagai hal dan juga sebagai chanelling agen dengan bermitra dengan offtaker, bermitra dengan aspek hulu, benih, pestisida, pupuk, bermitra dengan alsin untuk mekanisasi. Juga bermitra dengan Himbara/Bank Daerah untuk akses KUR , bermitra untuk transfer teknologi, industri hilir olahan-olahan, bermitra dengan pasar termasuk pasar dalam dan luar negeri. “Kekuatan-kekuatan itulah yang perlu kita ciptakan sekarang,” tandas Suwandi.

Tak kalah menarik untuk dikupas adalah bagaimana dengan pengembangan jaringan kemitraan, program-program pertanian dalam rangka peningkatan produksi diarahkan untuk menjadi suatu Gerakan bagi kelompoktani itu sendiri tidak hanya bersifat keproyekan yang bergantung pada bantuan Pemerintah, seperti Gerakan IP400, PATB.

Wayan Ediana, mewakili Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BP2SDMP Kementerian Pertanian, menyampaikan bahwa salah satu Fungsi Kelompok Tani adalah sebagai wadah belajar mengajar bagi anggota untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar tumbuh dan berkembang. Perlu nya penguatan Kelembagaan Petani untuk kemudian berubah menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani. Kelompok Tani atau Gapoktan, perlu disiapkan segala sesuatu nya agar dapat melalui perubahan tersebut. Dalam praktek nya, keberadaan para Penyuluh Pertanian menjadi hal yang tidak boleh diabaikan

Sementara itu Prof. Sunarru S Hariadi Guru Besar Fakultas Pertanian UGM memaparkan, dalam memperkuat kelembagaan Kelompok Tani diperlukan Struktur kelembagaan organisasi yang jelas dan tegas, Norma-norma kelompok yang tegas dan diakui serta dipercaya dan diikuti, Jaringan Kerjasama kelompok dengan lembaga lain, dan Kepemimpinan.

Namun demikian, M Yadi Sofian Noor, Ketua Umum KTNA Nasional menyampaikan bahwa salah satu indikator keberhasilan pembangunan pertanian ditandai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani-nelayan beserta keluarganya. Untuk mencapai hal tersebut selain difasilitasi oleh pemerintah, juga lebih difokuskan pada kemandirian petani-nelayan dalam mengupayakan berbagai komitmen usaha tani-nelayan termasuk dalam membangun dan membina kelembagaan kelompok tani secara optimal. “Dan salah satu faktor yang berperan dalam membangun serta membina kelompok tani adalah peran para penyuluh,” kata Yadi.

Dalam memperkuat organisasi KTNA harus selalu up date hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh pembangunan pertanian saat ini. Kader-kader KTNA tidak boleh tertinggal oleh kemajuan teknologi informasi dan inovasi yang terus tumbuh dan berkembang.

Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmadja, lebih menekankan kepada fenomena yang terjadi selama ini. Dirinya penting mengingatkan para pengambil kebijakan agar tidak larut dalam perkembangan politik yang dalam beberapa tahun mendatang, bakal mempengaruhi kebijakan dan program yang dilakukan Pemerintah. Entang menyampaikan langkah merevitalisasi kelompok tani, pasti tidak akan terlepas kaitan nya dengan perubahan lingkungan strategis yang kita alami selama ini, menyesuaikan dengan suasana yang tengah berlangsung. Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi, mesti menjadi kebutuhan utama dalam mewujudkan revitalisasi kelompok tani itu sendiri.

Menurut Entang, Transformasi pertanian yang kita lakoni selama ini, tentu menuntut ada nya perubahan di berbagai bidang kehidupan, khususnya yang bertalian dengan dinamika pembangunan pertanian dalam arti luas. Kelompok tani atau Gapoktan, jelas akan memainkan peran strategis dalam proses tranformasi pertanian. Itu sebab nya, bila ada hal-hal yang dapat merubah semangat dilahirkan nya kelembagaan petani, maka tugas kita bersama untuk mengamankan nya. Salah satu langkah yang mendesak adalah melakukan revitalisasi kelompok tani itu sendiri.

“Semoga akan mampu memberi masukan bagi lahir nya kebijakan yang lebih menjadikan Kelompok Tani/Gapoktan sebagai “prime mover” dalam pembangunan pertanian dan pembangunan petani di negeri ini,” pungkas Entang Sastraatmaja.