Riau,Mekraf.id – Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan sebagai UPT di bawah Kementerian Pertanian rutin melakukan diseminasi teknologi Pengamatan, Peramalan dan Pengendalian OPT (P3OPT). Bentuk pelayanan publik diseminasi P3OPT yaitu bimbingan teknis P3OPT dalam pendampingan pengamanan produksi tanaman pangan.

Seperti yang dilakukan pada tanggal 2-4 Februari 2022 lalu melakukan bimbingan teknis dalam rangka pembekalan pengetahuan CPNS POPT dan THL POPT untuk melakukan tugas pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT (P3OPT) di wilayah kerja masing-masing.

Sebanyak 65 peserta POPT terdiri dari 32 CPNS POPT dan 33 orang THL POPT lingkup Dinas Pertanian Riau antusias mengikuti acara ini guna meningkatkan pengetahuan P3OPT dalam menjalankan tugas di lapangan.

Syahfahlepi selaku Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau berharap dengan adanya bimbingan teknis ini petugas POPT semakin meningkat pengetahuannya dalam pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT di lapangan sehingga deteksi dini serangan OPT dapat dilakukan dengan tepat dan pengendalian OPT pun tepat sasaran. Bimtek ini menjadi bekal penting khususnya bagi CPNS POPT untuk melakukan tugas sehari-harinya,” ujar Syahfahlepi.

Di tempat terpisah, Enie Tauruslina selaku Kepala BBPOPT menyambut baik kegiatan ini karena menurutnya petugas POPT di provinsi adalah garda terdepan dalam pengamanan produksi tanaman pangan di lapangan sehingga menjadi hal penting agar sumber daya manusia POPT ditingkatkan dengan cara dilakukan bimbingan teknis P3OPT.

Bertindak sebagai narasumber dari BBPOPT yaitu Busyairi POPT Ahli Muda dan Yadi Kusmayadi POPT Ahli Madya. Beberapa materi penting yang disampaikan dalam bimtek antara lain pengenalan hama utama dan perhitungan kehilangan hasil akibat OPT utama padi, strategi pengendalian tikus, pengenalan penyakit dan epidemiologi, pengamatan, peramalan dan pengendalian penyakit padi serta ekobiologi, pengamatan, peramalan dan strategi pengendalian wereng batang cokelat (WBC) dan penggerek batang padi (PBP).

Busyairi selaku POPT Ahli Muda yang berkutat dan ahli dalam peramalan OPT di BBPOPT menjelaskan bahwa seorang POPT harus mampu mendeteksi OPT apa yang menyerang pertanaman sehingga pengenalan hama utama menjadi sangat penting karena sesuai dengan istilah tak kenal maka tak sayang.

“Apabila seorang POPT tidak memahami atau mengenal OPT apa yang menyerang dan salah deteksi, maka akan menjadi sangat fatal dan tidak tepat dalam pengendaliannya” sebutnya. Selanjutnya pada kesempatan tersebut Busyairi menjelaskan mengenai berbagai OPT utama pada padi serta bagaimana menghitung kehilangan hasil akibat OPT.

Hadir pula pada kesempatan itu Yadi Kusmayadi selaku POPT Ahli Madya dan pakar tikus dari BBPOPT yang telah berkecimpung dalam pengendalian tikus selama puluhan tahun. Dijelaskannya terlebih dahulu tentang karakteristik dan perilaku hidup tikus. Hal ini menurutnya sangat penting, pasalnya banyaknya kegagalan dalam penanganan hama tikus di pertanaman adalah salahnya pemahaman tentang tikus.

“Tolong diperhatikan, bahwa ada perbedaan pengendalian tikus pada masa sebelum tanam, pada saat tanam, pada fase vegetatif maupun fase generatif,” ujarnya. Dijelaskan Yadi bahwa pada saat pra tanam dan olah tanah teknik yang tepat adalah gropyokan, pembongkaran lubang aktif dan pengemposan hal ini bertujuan agar tikus yang berada di dalam sarang persembunyian bisa dipastikan mati dan tak bersisa, sedangkan memasuki saat tanam pengendalian yang dilakukan adalah pemberian umpan beracun, sedangkan pada saat tanaman generatif teknik yang sangat dianjurkan adalah pengemposan. Pada tanaman di persemaian dan fase vegetatif juga dapat dilakukan pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap atau istilah kerennya Trap Barier Sistem (TBS), selain berguna untuk melindungi pertanaman dari serangan tikus, pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap juga berguna untuk menangkap tikus.

Selain itu faktor terpenting dalam pengendalian tikus adalah harus dilakukan secara serentak, bersama-sama, tuntas dan dalam hamparan yang luas, bila pengendalian dilakukan secara sporadik upaya pengendalian tidak akan efektif karena tikus akan berpotensi pindah ke tempat lain yang lebih aman.

Untuk pengendalian penggerek batang padi (PBP), Yadi menjelaskan strategi pengendalian PBP adalah dimulai dari pengolahan tanah. Perlu dilakukan pembabatan sisa panen (singgang) hingga bersih sampai pangkal batang yang diikuti dengan pengenangan, hal ini bertujuan untuk menghilangkan sumber OPT. Pengolahan tanah perlu dilakukan secara sempurna untuk selanjutnya dilakukan tebar benih. Selain itu, perlu dipertimbangan penyediaan tempat berlindung bagi musuh alami OPT misalnya penanaman refugia di sekitar pertanaman dan pemasangan bumbung konsevasi serta parasitoid Trichogramma pada persemaian sebagai musuh alami PBP.

“Untuk PBP, lakukan penundaan waktu tebar benih paling tidak 10 hari setelah puncak penerbangan ngengat PBP agar tidak menjadi tempat peletakan kelompok telur di persemaian dan setelah itu apabila ditemukan kelompok telur di persemaian maka lakukan pengumpulan kelompok telur. Kemudian jika serangan terjadi pada saat fase vegetatif perlu dilakukan pembelahan batang padi untuk mengetahui instar larva PBP dan tingkat keparahannya agar dapat dilakukan pengendalian yang tepat” tutup Yadi.

Sesuai dengan arahan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, SDM pertanian khususnya POPT perlu ditingkatkan sebagai garda terdepan pengamanan produksi di lapangan agar antisipasi serangan OPT mampu dilakukan secara dini dan tepat. Di tempat terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) juga telah memerintahkan kepada semua jajaran Kementerian Pertanian untuk terus mengawal dan menuntaskan masalah-masalah pertanian seperti hama dan serangan penyakit agar produksi pangan nasional tetap terjaga.