Sragen,Mekraf.id – Komisi IV DPR bersama Kementerian Pertanian kunjungi Sragen, meninjau lokasi sawah yang memasang jebakan tikus dengan setrum listrik. Praktek yang tidak mengikuti kaidah ini banyak dilakukan petani dan telah memakan korban jiwa. Sebanyak 22 orang meninggal sejak 2019 disebabkan jebakan setrum ini.

Prihatin akan hal ini, Komisi IV DPR bersama Kementan mendatangi lokasi di desa Jambanan, Kecamatan Kedawung Kabupaten Sragen hari Sabtu (5/2) untuk memberikan penyuluhan terkait pentingnya menghindari praktek cara pengendalian yang tidak benar.

Korban petani kebanyakan adalah pemilik lahan, dan pihak Kepolisian telah melakukan tindakan preventif solutif dengan memutus jebakan tersebut. Hasil dari kunjungan menemukan bahwa petani memanfaatkan jaringan submersible atau dengan genset.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengingatkan jajaran Kementan untuk lebih komprehensif lakukan pendampingan ke petani, petugas lebih cekatan, dan unit pelayanan teknis cepat bergerak. “Jika ada hama tikus cepat cari solusi jangan nunggu orang pasang setrum,” ujar Dedi.

Dedi mengingatkan jumlah penyuluh makin sedikit maka para petani harus didampingi saat kena masalah. Ia mengingatkan peristiwa penangan hama yang terjadi dengan jaringan listrik yang tidak direkomendasikan tidak boleh terulang lagi. “Harus ada kesungguhan untuk antisipasi kedepan, dan saya senang melihat sepanjang mata memandang sudah siap panen dan terlihat tidak banyak hama,” tambah Dedi.

Senada hal tersebut anggota DPR Luluk Nur Hamidah memohon dukungan PLN bersama bergerak mengatasi tikus. “Minimal dengan program CSR nya bisa dengan gropyokan tikus. Jika masih ingin pertahankan Sragen jadi lumbung pangan maka dibantulah apa yang seharusnya dibantu,” sambung Luluk

Sementara itu Dirjen Tanaman Pangan Suwandi sebagai pendamping dari Kementan menekankan saat persiapan lahan perlu sanitasi. “Pembersihan lahan itu namanya pencegahan dan harus skala hamparan,” tandasnya.

Adapun Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah menindaklanjuti masalah ini pada saat kunjungan ke Sragen beberapa minggu lalu dengan koordinasi bersama PLN.

“Sesuai arahan menteri langkah-langkah untuk mengendalikan hama dilakukan dengan pencegahan dengan menjaga sanitasi, tanam secara serempak, menanam di pematang tanaman yang tidak disukai tikus seperti serai, bawang putih, dan tomat.

Selain itu Kementan juga telah menginisiasi pemanfaatan burung hantu sebagai musuh alami. Ditekankan pula perlunya mencoba biopestisida dengan bahan alami seperti gadung dan ubi kayu.
“Gropyokan terus menerus dari olah lahan dan sebelum panen,” kata Suwandi.

Suwandi juga menyatakan apresiasinya Sragen yang berkomitmen melaksanakn IP400. “Tahun ini komitmen 10 ribu ha bersama Sukoharjo dan semoga berhasil,” harap Suwandi.

Ia meminta menggunakan pupuk kimiawi yang tepat berimbang sesuai kebutuhan. “Jangan terlalu boros, sisanya dari kompos bahan organik dan hayati. Gunakan input seefisien mungkin. Jangan racuni pupuk kimia di tanah kita, kembalikan kesuburan tanah,” tandasnya

Sementara itu Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengapresiasi banyaknya bantuan dari Kementan. “Sragen siap untuk IP400 dan budidaya kacang tanah, apalagi tahun 2021 produksi urutan 3 di Jateng,” katanya.

Terkait hama tikus di 20 kecamatan, menurut Kusdinar menjadi momok apalagi dengan adanya jalan tol. “Dengan adanya kedatangan anggota DPR dan Kementan kami sangat berharap bisa mendapatkan solusi jitu untuk mengantisipasi serangan tikus. Kita sudah sosialisasi melibatkan TNI dan Polri, dari 379 unit yang dipasang sudah dicabut semua. Kami sudah menghubungi PLN dan Pak Mentan langsung meminta PLN untuk mencari solusi. UGM dan UNDIP siap untuk research teknologi efektif pengganti listrik,” tambah Kusnardi.

Dalam rangkaian acara tersebut dilakukan penyerahan bantuan sarana pengendalian hama tikus dan bantuan benih padi super genjah untuk OPIP seluas 10 hektar.