Ubi jalar dengan berbagai warna orange, ungu, putih, merupakan makanan yang dikenal luas & kaya akan nutrisi yang baik, kalori, karbohidrat, protein , serat, vitamin A,C,B6 & lainnya, juga ubi jalar kaya akan antioksidan yang melindungi tubih dari radilal bebas.

Ubi jalar merupakan salah satu jenis komoditas Tanaman pangan yang bisa diolah menjadi berbagai hidangan makanan lezat. Tidak heran, banyak petani, UMKM, perusahaan mengembangkan komoditas tersebut Dengan berbagai vareasi olahan yang mempunyai Nilai tambah. Apalagi, potensi ubi jalar sebagai bahan baku produk makanan minuman memiliki pasar potensial baik di dalam negeri maupun pasar global.

BTS Propaktani episode 312 tanggal 31 Januari 2022 mengangkat topik “Ubi Jalar: Pengolahan Hasil dan Potensi Pasar. Salah satu narasumber Ir. Mewa Ariani, MS, Peneliti Utama PSEKP menyampaikan bahwa Ubi jalar itu bisa dipakai macam-macam dari umbinya, kulitnya, daunnya Dan bisa diolah dalam bentuk tepung, pasta. Tepung pati pada industri makanan bisa diolah menjadi macam-macam roti, kue kering, dodol dan sebagainya.

Selanjutnya Peneliti Muda BB Pascapanen Widaningrum, STP, MSi, Ph.D memaparkan, ada juga satu jenis pati yang bukan pati alami lagi tapi sudah mengalami modifikasi. Mengapa ada pati modifikasi, karena ada kendala penggunaan pati alami dalam industri pangan, disebutkan bahwa untuk pati alami itu diperlukan waktu yang lebih lama dan enegi yang lebih tinggi untuk memasak pati dan pasta & yang dibentuk pun keras dan tidak bening sifatnya sangat lengket. Untuk keperluan industri diperlukan kekentalan yang stabil di suhu tinggi maupun rendah, mempunyai ketahanan yang baik terhadap perlakuan mekanis, dan memiliki daya kekentalan terhadap kondisi asam dan suhu tinggi. Jika pati sudah dimodifikasi maka pati itu akan memiliki kecerahan yang lebih tinggi tingkat patinya lebih putih. Kemudian pembentukan gel kembali kalau didinginkan itu akan lebih rendah presentase kekentalannya, kekuatan regangnya lebih rendah, tetapi waktu dan suhu gelatinisasi patinya lebih tinggi, itu yang diinginkan industri”. Jelas Widaningrum.

Tri Pramono ketua Poktan Samarena, Sukabumi menyampaikan sudah melakukan uji coba pati sama proses dengan singkong ternyata setelah didapat aci, kita mencoba menjadi produk olahan berupa cireng terus pempek . Rasanya teksturnya itu lebih kenyal lebih bagus karena memang kandungan pati dari ubi jalar ini punya tekstur yg lebih kenyal. Kami juga melakukan tes lab tentang hasil kandungan aci tersebut bahwa memang kandungan dari karbohidratnya itu energi totalnya cukup tinggi dari 100gr kilo kalori itu 370, melebihi dari beras dan inilah yang menjadi alasan kami bahwa ini bisa laku dipasaran.

Ketua Poktan Harapan Kita, Lumajang Hariyanto, menyampaikan potensi permintaan ubi jalar khususnya di Kabupaten Lumajang semakin meningkat, dari situ kita harus berfikir bagaimana caranya untuk memperluas tanaman kita itu menjadi semakin luas dan semakin diminati di kalangan pasar dan industri.
Varietas yang banyak ditanam di Luamajang adalah Ubi Madu atau Ubi Cilembu, ubi Ungu dan kita bermitra dengan perusahaan-perusahaan yang kapasitas kebutuhannya besar. Rata rata satu bulan harus mencukupi 270 ton. Dari pemerintah mensuport kami melalui bantuan UPH (unit pengolahan hasil) untuk pengembangan UKM.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi dikesempatan lain mengatakan, ubi jalar menjadi komoditas pangan lokal yang sangat berpotensi dikembangkan baik aspek budidaya maupun hilirisasinya. “Untuk meningkatkan produksi, kami bekerjasama dengan perguruan tinggi melakukan demplot perbenihan ubi jalar,” kata Suwandi. Pemerintah lanjut Suwandi juga mendorong petani bisa memanfaatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat), kemitraan maupun investor untuk pengembangan budidaya ubi jalar. Pola pengeloaan melalui korporasi petani juga terus dikembangkan.
Pengembangan pangan lokal sejalan dengan strategi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam Cara Bertindak 2 (CB2) terkait diversifikasi pangan lokal.