Bojonegoro,Mekraf.id – Bimtek dan Sosialisasi Propaktani episode 305 hari Kamis (27/1) disiarkan Langsung dari Bojonegoro meliput kegiatan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT Ramah Lingkungan dan Antisipasi Dampak La Nina. Kegiatan yang serupa sebelumnya dilakukan di Subang, Boyolali selanjutnya merambah ke Desa Sumberejo Kidul Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Gerdal OPT di Bojonegoro yang diinisiasi dilakukan secara ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati dan pestisida hayati yang bisa dihasilkan sendiri oleh petani yang didampingi petugas POPT. Kemudian untuk antisipasi Dampak Perubahan Iklim khususnya La Lina dilakukan pula normalisasi saluran-saluran air, baik itu sekunder, tersier maupun saluran-saluran cacing.

Pada gerdal tersebut petani di desa Sumberejo Kidul menggunakan agensia hayati berupa pemanfaatan jamur penyebab penyakit pada serangga, yaitu jamur patogen Beauveria bassiana. Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogen yang dapat digunakan untuk pengendalian hama pada tanaman padi. Dalam mengendalikan hama terutama golongan serangga, Beauveria bassiana akan menginfeksi tubuh serangga melalui permukaan kulit atau saluran pencernaan selanjutnya cendawan ini akan berkembang biak dan memproduksi racun beauverin yang akan merusak tubuh dari serangga tersebut.

Serangga yang terserang jamur beauveria bassiana ini akan mati dengan kulit mengeras dan tubuh yang tertutup hifa berwarna putih. Keunggulan penggunaan agen hayati dalam hal ini Beauveria bassiana dibandingkan dengan penggunaan insektisida kimia adalah tetap terjaganya keseimbangan ekosistem seperti populasi musuh alami hama wereng dan walang sangit yang tidak ikut mati seperti dalam penyemprotan pestisida kimia.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, mengapresiasi kegiatan Gerdal OPT Ramah Lingkungan dan Antisipasi Dampak La Nina. Suwandi menyampaikan bahwa apa yang sedang dilakukan ini diharapkan bisa direplikasi di lokasi lain. Meskipun dalam kondisi pandemik, peningkatan produksi pertanian tetap merupakan prioritas utama bagi ketahanan pangan bangsa Indonesia. Hal ini sejalan dengan arahan Mentan SYL untuk terus mengawal dan mengamankan produksi tanaman pangan nasional.

“Kunci keberhasilan gerdal di setiap daerah adalah dilakukan secara serentak dan dalam skala yang luas, sehingga diperlukan kerjasama semua pihak. Upaya pengendalian OPT ini juga harus yang ramah lingkungan, salah satunya dengan meningkatkan ketersediaan agens hayati yang ada di alam,” tutur Suwandi.

“Agar setiap daerah melakukan mapping serangan OPT/DPI sehingga gerakan dilakukan di wilayah sesuai target, semua harus bergerak membantu petani mengamankan produksi padi dari ancaman serangan hama wereng ataupun hama lainnya yang mengancam produksi pangan nasional,” tegas Suwandi

Pada kesempatan tersebut Takdir Mulyadi Direktur Perlindungan Tanaman Pangan menyatakan gerakan pengendalian yang dilakukan masyarakat, khususnya petani terkait pemanfaatan agensia spesifik lokasi untuk melakukan pengendalian terhadap OPT utama Padi, khususnya WBC. Di samping itu di lokasi tersebut juga meninjau keberhasilan program Dem Area Dampak Perubahan Iklim”. Di areal sekitar 150 Ha, yang tadinya taman 2 kali bisa menjadi 3 kali dengan memanfaatkan sumber air yang ada”, sambung Takdir Mulyadi.

Upaya yang dilakukan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan sebagai bentuk antisipasi pencegahan banjir di Musim Hujan, di antaranya melalui normalisasi saluran tersier, kuarter, dan saluran cacing. Curah hujan dengan intensitas tinggi berpeluang meningkatkan debit air di badan-badan air. Jika ada saluran yang tersumbat, sedimentasi atau rusak dapat menyebabkan air meluap dan mengalir ke lahan pertanian yang dekat dengan saluran air. Dengan adanya gerakan ini, petani melakukan pembersihan saluran air agar aliran air lancar di sepanjang saluran bersama jajaran Babinsa.

Daerah gerdal ini awalnya memiliki beberapa permasalahan, antara lain hanya bisa panen 3-4 ton, 60% kegagalan terkena dampak kekeringan dan 40% kegagalan karena serangan WBC, namun dengan adanya program Dem Area Dampak Perubahan Iklim dari Kementerian Pertanian sangat membantu mengatasi permasalahan tersebut. Demikian disampaikan Helmy Elisabeth, Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro. “Kami akan mereplikasi program ini ke kecamatan lain di Tahun 2022, kami ada Dem Area Budidaya Tanaman Sehat seluas 25 Ha, menggunakan agensia hayati, dan musuh alami; bantuan 110 unit rumah burung hantu, pendampingan melalui jaringan PPAH”, papar Helmy.

“Harga pupuk kimia dan obat-obatan yang semakin mahal, padahal disekitar masyarakat terdapat bahan-bahan yang dapat diolah untuk mengendalikan OPT, sehingga kami mendorong untuk menggunakan agens hayati,” tambah Helmy.

Kegiatan gerdal juga melibatkan anggota TNI sebagai wujud kerjasama Kementan dengan TNI. Letkol Arm. Arif Yudho Purwanto selaku Dandim 0813 Bojonegoro menyampaikan bahwa pendampingan yang dilakukan jajarannya merupakan salah satu upaya dalam menjaga ketahanan pangan di tengah pandemic Covid-19. “TNI berkomitmen untuk siap mengawal dan mendampingi pengamanan pangan. Kepada para petani jangan takut untuk menyampaikan keluhan dan kendala kepada para Babinsa. Kerjasama antara TNI, PPL dan Petani akan menjalin komunikasi yang harmonis sehingga pencapaian swasembada pangan dapat terwujud,” pungkas Arif.