Setelah sebelumnya dilaksanakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Gerakan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (Gernang DPI) di Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat, dalam rangka pengamanan produksi, kegiatan dilanjutkan ke Provinsi Jawa Tengah tepatnya di Kelompok Tani Sinar Tani Desa Tanjungsari Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.

Seperti halnya di Subang, Gerdal OPT di Boyolali pun dilakukan secara ramah lingkungan dengan menggunakan agen hayati dan pestisida hayati yang bisa dihasilkan sendiri oleh petani melalui pendampingan-pendampingan yang dilakukan oleh POPT . Selanjutnya untuk antisipasi Dampak Perubahan Iklim khususnya La Lina dilakukan pula normalisasi saluran-saluran air, baik itu sekunder, tersier maupun saluran-saluran cacing.

Direktur Perlindungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi mengatakan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, baik itu POPT, petani, jajaran TNI dan kepolisian. “Dalam kegiatan ini pesertanya semua terlibat. Sesuai dengan UU no 22 pasal 48 ayat 1 dan 2, bahwa pengendalian OPT dan DPI adalah tanggung jawab bersama.” Ujar Takdir.

Lebih lanjut Takdir menambahkan pihaknya telah memiliki MOU dengan rekan-rekan TNI untuk melindungi tanaman padi di seluruh Indonesia. “Mudah mudahan ini menjadi gerakan masal di seluruh wilayah Indonesia sebagai bentuk tindakan preventif dalam pengamanan pangan.” harapnya.

Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah sentra pengembangan budidaya tanam sehat, sehingga saat ini menerima alokasi paling banyak dalam gerakan OPT dan DPI ini. Salah satu permasalahan yang kita hadapi adalah harga pupuk yang naik tinggi karena kondisi perdagangan. Dengan budidaya tanaman sehat, kita dapat menekan bahkan mengganti sepenuhnya pupuk kimia dengan pupuk organic yang ramah lingkungan.

Kadistanbun Prov. Jawa Tengah, Supriyanto mengharapkan adanya regulasi yang jelas di tingkat provinsi atau kabupaten terkait pengembangan budidaya tanaman sehat. “Karena tanpa adanya hal itu, kami akan kesulitan dan kami tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi dari semua pihak.” Ungkap Supriyanto.

Supriyanto menambahkan bahwa gerakan pengendalian OPT ini dikhususkan pada OPT penggerek batang dan menggunakan APH jamur beauveria bassiana “sebagai laporan, tahun 2021 Jawa Tengah memiliki target 9,75 juta ton, dan sekarang sudah terlampaui yaitu sebanyak 9,82 juta ton”

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan bahwa untuk menaikan produksi Padi di Jawa Tengah, selain dengan peningkatan produktivitas, perluasan Areal tanam, peningkatan IP, juga perlu dilakukan pengamanan produksi dari hama serta dari banjir maupun kekeringan. “Harapannya dengan adanya gerakan ini, bisa mengembalikan produksi padi di Jawa Tengah seperti pada tahun 2020. Kemudian harus ada terobosan dan inovasi baru. Dengan berbagai inovasi pasti akan mengangkat dan meningkatkan produksi. Kemudian cari solusi bagaimana menurunkan gagal panen terhadap serangan hama penyakit, tetapi ramah lingkungan dan berkelanjutan serta ada antisipasi dampak perubahan iklim.’’ tuturnya.

Suwandi menambahkan “Hal-hal yang harus dicermati bukan sekedar bagaimana gerakan ini dicatat sebagai teori, tapi bisa diaplikasikan secara nasional. Ada challenge dari Mentan SYL terkait komoditas padi, yaitu yang pertama produktivitas padi minimal 6 ton/ha, yang kedua produksi harus naik dan yang ketiga adalah swasembada pangan”

Dari laboratorium LPHP, Ir.F.Herawati Prarastyani, M.Si, Kepala BPTPH Prov.Jateng menjelaskan cara perbanyakan APH beauveria bassiana yang merupakan cendawan entomopatogen yang menghasilkan toksin beauvericin yang menyebabkan kerusakan jaringan secara menyeluruh yang mengakibatkan kematian pada serangga. Beauveria bassiana memiliki potensi yang sangat baik sebagai agen pengendali hayati guna menurunkan populasi beberapa hama pada pertanian. Perbanyakan masal jamur Beauveria bassiana bisa dilakukan dengan perbanyakan media padat, salah satunya beras.

Sebagai tuan rumah, dilokasi Gerdal, Bambang Jiyanto, Kepala Dinas Kabupaten Boyolali mengatakan bahwa apa yang dicanangkan oleh dirjen tanaman pangan mudah mudahan bisa direplikasikan oleh seluruh petani padi di Boyolali. Saat ini terdapat 1479 hektar lahan dengan produksi 7,3 ton per hektar. “Kami akan jaga sampai panen, didampingi kepala BPTPH dan laboratorium untuk mengatasi gejala-gejala padi yang berpenyakit.” Ujarnya

Disamping Kebupaten Boyolali, Kegiatan Gerdal OPT di Jawa Tengah dilaksanakan juga secara serentak di Kabupaten Banyumas, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Karanganyar. Dalam kesempatan tersebut, Maryati Ketua KWT Puspahati Rukun Manunggal Kecamatan Mojosongo/Petani P4 dan Supriyanto selaku Kepala Desa Tanjungsari memberikan testimoni terkait keunggula penggunaan APH dalam pengendalian OPT.

Terpisah, Aris Pramudia, Peneliti Balitklimat menyampaikan terkait pemanfaatan aplikasi SI KATAM terpadu ver 3.3 MH 2021/2022 dan akses informasi iklim lainnya. Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu menjadi sebuah kebutuhan, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian dan dapat mengurangi kerugian panen akibat kekeringan dan banjir. Disamping itu, sebuah informasi yang terangkum dalam satu data base menjadi sebuah kebutuhan untuk mendapatkan berbagai informasi dalam waktu cepat. “Kalender tanam ini memberikan informasi yang lengkap bagi petani. Panduan operasional tersebut ditetapkan pada level masyarakat, dan kecamatan. SI KATAM sebagai salah satu alat penting dalam penyesuaian pola tanam tanaman pangan dengan perubahan iklim, menyampaikan informasi tentang arah, strategi dan kebijakan sektor pertanian terhadap perubahan iklim berupa road map kepada pemangku kepentingan dan pihak terkait” tuturnya.