Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno memberikan kita sukssen menjadi entrepreneur pertanian. Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara bimtek sosialisasi Proipaktani yang rutin diselenggarakan Kementan hari Selasa (26/1). Sandiaga sangat mengapresiasi dan memberikan motivasi dalam memanfaatkan peluang usaha pertanian.

Peluang bisnis perbenihan menurut Sandiaga adalah salah satu bidang usaha yang memiliki potensi pasar yang sangat besar. Hal penting dan mendasar dalam membangun mindset entrepreuneur adalah optimesme, tidak mudah menyerah, berpikir positif dan fokus pada solusi. Kemudian bisa cepat beradaptasi dan tidak berhenti berinovasi sehingga dapat memperkenalkan usaha di dalam bidang perbenihan tanaman pangan ini. “Perlu program perdampingan edukasi dan pengarahan secara berkala kepada petani untuk meningkatkan potensi skala pola pikir petani,” ujar Sandiaga Uno.

Benih unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya tanaman dan perannya tidak dapat di gantikan oleh faktor lain, karena benih sebagai bahan tanaman dan sebagai pembawa potensi genetik terutama untuk varietas-varietas unggul. Keunggulan varietas dapat dinikmati oleh konsumen bila benih yang ditanam bermutu. Untuk mengatasi petani kesulitan mendapatkan Benih unggul, terutama jenis biji bijian, masyarakat tani secara berkelompok (poktan) didorong memproduksi sendiri kebutuhan benihnya sehingga akan lebih menghemat waktu dan biaya, untuk selanjutnya dapat menjadi unit produksi benih sumber yang berorientasi agribisnis.

Pengetahuan mengenai sifat alamiah dan struktur bijian sangat diperlukan dalam memahami perilaku biji bijian sehingga dapat diupayakan pengembangan yang cocok untuk diproduksi menjadi benih unggul.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menyampaikan bahwa Kementan mendukung penuh para produsen benih untuk menyediakan benih unggul bermutu. Benih adalah pondasi busidya pertanian. Harus Ada terobosan baru, seperti benih Padi genjah yang bisa tanam dan panen 4 kali dalam setahun sejalan dengan strategi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam cara bertindak 1 (CB 1) terkait peningkatan produksi.

“Produsen padi sudah mengarah pada padi unggul. Tahun ini kira-kira 190 rb hektar membutuhkan benih unggul tersebut. Ada sinergi di sentra-sentra dalam program IP400, disitulah ada pendukung untuk perbenihan karena dibutuhkan benih umur pendek. Petani juga harus mengatur pola tanam, bukan hari atau minggu, tapi menggunakan tanggal,” kata Suwandi.

Dalam kesempatan tersebut Suwandi berterimakasih kepada Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif yang memberikan motivasi kepada para pelaku usaha Tani. Ia melihat potensi ke depan bisa berkolaborasi antara sektor pertanian dengan sektor Pariwisata seperti pengembangan agroeduwisata, UMKM pangan lokal.

Untuk mencapai target peningkatan produksi kuncinya adalah tersedinya benih, dari jumlah, volume, lokasi dan seterusnya. Ini tidak terlepas dari peran perbenihan. Tentunya untuk menyiapkan benih ini tidak bisa dikerjakan oleh satu atau dua orang saja tapi merupakan kerja bersama semua pihak dengan semangat yang tinggi. Demikian disampaikan Takdir Mulyadi,Direktur Perlindungan Tanaman Pangan.

Sejalan dengan hal tersebut, Peneliti Perbenihan BB Padi Sukamandi, Ir. Sri Wahyuni, MSc, menyampaikan bahwa benih berfungsi sebagai pembawa inovasi teknologi. Inovasi teknologi yang dikemas dalam varietas unggul akan sampai ke lahan petani melalui benih yang bermutu. Adapun aspek mutu benih yakni mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisik. Benih sumber jelas mempunyai asal-usul benih, yang ditunjukkan dengan sertifikat benih sumber.

“Sumber benih yang digunakan minimal harus 1 kelas diatasnya, contoh untuk produksi benih klas Benih Pokok (label ungu) harus digunakan Benih Dasar (label putih) atau Benih Penjenis (label kuning). Jarak minimal antar varietas yang berbeda 2 m. Isolasi waktu tanam adalah sekitar 21hari (untuk menghindari penyerbukan silang.). Isolasi dihitung dari perbedaan waktu berbunga,” Jelas Sri Wahyuni.

Kepala UPBS Balitkabi, Herdina Pratiwi, pun menambahkan bahwa prinsip dalam produksi benih adalah kegiatan dilakukan di sentra produksi, di lahan yang subur, datar, dengan sumber pengairan memadai, tidak di lokasi endemik, dilakukan dengan tanam serempak dan pada saat yang tepat. Kemudian diperlukan pemeliharaan tanaman yang optimal. Selain itu aplikasi pestisida juga harus tepat dan bijaksana, tepat sasaran, tepat dosis, dan jenisnya serta panen pada saat yang tepat dan penanganan pasca panen yang benar untuk menghasilkan benih bermutu.

“Pada fase-fase penting dibutuhkan pengendalian hama yang dilakukan berdasarkan pemantauan. Pengendalian dilakukan secara berkala (setiap 5-7 hari tergantung dari populasi hama) dan secara tepat. Kemudian dilakukan pada pagi dan sore hari tergantung jenis hama dan diupayakan penyemprotan mengenai seluruh bagian tanaman. Arah penyemprotan tidak berlawanan dengan arah angina,” Jelas herdina.

Nasihin sebagai Ketua Kelompok Tani Gangsa 1 hadir memberikan testimoni pendampingan SL Mandiri yang telah dilakukan oleh BPTP Jawa Barat. Pendampingan tersebut meliputi penyediaan varietas unggul baru VUB, pelatihan teknis produksi benih padi, kinerja kelembagaan, strategi pemasaran, kemitraan, dan teknologi alsintan. Dengan adanya hal tersebut, terdapat peningkatan dalam peningkatan produksi benih. Pada tahun 2016 menghasilkan 60 ton kemudian terus meningkat hingga tahun 2021 dapat menghasilkan 500 ton.

Selanjutnya, dalam kesempatan tersebut, hadir pula pelaku usaha/produsen benih, yakni Ainur Rofiq dari PT Jafran dan Khamdan Wibowo, dari CV PB Utama.

“Rata-rata setiap tahun PT Jafran Indonesia mempu memproduksi 1.000 ton benih jagung hibrida bersertifikat dengan wilayah pemasaran mencapai area Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Madura, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Semakin banyaknya produsen benih yang baru dengan produk yang baru dapat meningkatkan persaingan sehingga menjadi tantangan bagi pelaku usaha/perusahaan untuk bisa menjaga konsistensi kualitas dan bagaimana bisa menyampaikan kualitas benih kepada petani sehingga mampu bersaing dengan para kompetitor lainnya.”ujar Ainur.

Berbeda dengan PT Jafran, CV PB Utama merupakan produsen yang fokus pada benih kedelai dan kacang hijau. “Benih kedelai dan kacang hijau adalah komoditas yang mungkin kurang familiar, karena memang kedelai peminatnya tidak terlalu banyak. Untuk kedelai, mengalami harga yang kurang bersahabat. Sebelum tahun 2020 kedelai kurang diminati karena harganya di bawah 8 ribu rupiah. Namun akhir-akhir ini komoditas palawija terutama kedelai dan kacang hijau mengalami lonjakan yang signifikan. Harganya telah naik sekitar 30%. Hal ini sangat menguntungkan untuk para petani.” Tutur Khamdan.