Jakarta,Mekraf.id – Kementerian Pertanian (Kementan) bersiap fokus pada beberapa program superprioritas tahun mendatang. Komoditas tanaman pangan yang menjadi penopang pangan selama ini menjadi prioritas yang harus terus didorong supaya meningkatkan produksi.

Mentan Syahrul Yasin Limpo pada rakor evaluasi 2021 dan rencana 2022 yang digelar hari Senin lalu (27/12) menegaskan agar semua unsur yang ada bisa duduk bersama untuk mengevaluasi dan menentukan arah dan langkah kedepannya.

SYL dalam kesempatan itu mengapresiasi kinerja tanaman pangan setahun terakhir. “Dengan data yang sudah saya lihat , Alhamdullilah bahwa capaian kinerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ada peningkatan. Saya berharap untuk ke depannya tidak boleh mundur, harus selalu maju terus. Penduduk Indonesia 273 juta orang harus tercukupi segala kebutuhan makannya dan untuk tahun depan kita akan memprioritaskan kegiatan Prioritas dan tidak boleh salah menghitung, tidak boleh salah mengestimasi, tidak boleh berspekulasi karena ini urusannya dengan perut,“ tegasnya.

Di masa Pandemi ini sudah 2 tahun tercatat tidak ada impor beras umum, hal ini menandakan Kementerian Pertanian berhasil dengan seluruh target pekerjaannya. Untuk tahun depan Mentan menargetkan pada peningkatan produktivitas yang akan mengungkit produksi.

Menurut SYL yang menjadi perhatian penting untuk pertanian ke depan adalah membangun hilirisasi. “Jangan hanya terpaku pada produksi lalu selesai, harus ada hilirisasinya, kemana produk ini akan dijual dan diolah dalam bentuk apa,” ujarnya

SYL dalam kesempatan tersebut kembali mengingatkan tantangan besar pertanian adalah cuaca ekstrim. “Ada 3 tantangan besar pertanian yakni cuaca ekstrim, hama, banjir dan bencana alam. Sehebat apapun perencanaan apabila kita tidak lakukan cara bertindak yang tepat maka akan sia-sia,“ tandas SYL

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan ada lima kegiatan yang nantinya akan difokuskan yakni (1) peningkatan indek pertananan IP400 yang telah dilaksanakan 2021 seluas 9.800 hektar agar diperluas 2022 menjadi di atas 100.000 hektar (2) perluasan areal tanam baru (PATB) padi untuk menutupi alih fungsi lahan agar ditingkatkan lagi luasannya, (3) jagung untuk ekspor di Kalimantan, Papua, NTT dan lainnya, (4) food estate Sumba Tengah, Pulau Buru dan lainnya dan (5) pengembangan kawasan porang lengkap dari hulu hingga hilir dan pasarnya.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan pula telewicara di lokasi yang menjadi prioritas tanaman pangan. Seperti halnya pengembangan porang di Madiun, IP 400 di Sukoharjo, Integrated Farming di Karanganyar dan Boyolali, serta Food Estate di Sumba Tengah. Laporan dari daerah menyebutkan bahwa kegiatan yang diprogramkan Kementan berjalan baik dan mampu memberikan dampak positif bagi petani.

Suwandi berharap beberapa lokasi tersebut bisa menjadi role model yang akan direplikasi di wilayah lain, sehingga di tahun mendatang ia akan memberikan perhatian khusus bagi wilayah-wilayah rintisan tersebut.