JAKARTA,Mekraf.id – Pertanian merupakan salah satu sektor pembangkit ekonomi sekaligus pilar penyangga ketahanan pangan dan ketahanan sosial politik dan keamanan nasional. Sektor pertanian salah satu sektor yang sangat rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim.

Untuk itu, Kementerian Pertanian bersama petani dan penyuluh terus mempersiapkan diri menghadapi dampak perubahan iklim.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyebutkan peran inovasi dan teknologi, termasuk IoT dan artificial intelligence perlu dimaksimalkan dalam upaya adaptasi perubahan iklim.

“Kita sedang berada di era Artificial intelligence. Penggunaannya perlu kita manfaatkan untuk mendapatkan pengetahuan dan analisis tajam tentang strategi yang dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Selain itu, artificial intelligence turut mendukung agenda yang dijalankan dalam beradaptasi dengan perubahan iklim,” katanya.

Misalnya, harus bisa memprediksi varietas yang harus digunakan.

“Apakah varietas tahan genangan atau varietas tahan kering. Pertanaman pun begitu, harus diatur,” jelas Mentan.

Dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 48 Jumat (24/12/2021), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, secara virtual dari Ruang AOR BPPSDMP, mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan perubahan pola dan intensitas unsur iklim dalam periode waktu yang sangat panjang yang ditandai global warning.

“Perubahan iklim juga berdampak pada distribusi dan produktivitas pertanian. Maka, petani dan penyuluh harus mampu dan mau mengatasi dampak perubahan iklim” jelas Dedi.

Lebih lanjut Dedi mengatakan bahwa perubahah iklim akan berdampak pada variabel pertanian seperti perubahan suhu dan kelembaban air, air yang ideal adalah air yang cukup tidak kurang dan tidak berlebih.

Menurut Narasumber MSPP, Fahmuddin Agus, Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah, menjelaskan gejala perubahan iklim yang kesemuanya berpengaruh terhadap sektor pertanian.

Diantaranya adalah peningkatan suhu global, kekeringan semakin sering, iklim ekstrem semakin ganas dan sering, serta perubahan pola hujan dan salju.

“Selain itu, mencairnya gletser dan permafrost (es abadi) di kutub yang selanjutnya menyebabkan meningkatnya permukaan air laut kadar garam di areal pantai,” ujar Fahmuddin.

Gejala utama perubahan iklim lainnya adalah pemanasan global dan pemanasan global berhubungan dengan peningkatan Konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer.

Selanjutnya Fahmuddin menambahkan bahwa sejalan dengan hasil COP 26 di Glasgow, strategi pembangunan pertanian Indonesia adalah adaptasi merupakan prioritas, dengan beradaptasi diharapkan terjadi pula penurunan emisi (mitigasi) GRK sebagai co-benefit dari adaptasi.

“Maka diperlukan penguatan aksi-aksi adaptasi yang sudah ada, dan menjadikan aksi adaptasi tersebut sebagai bagian dari perencanaan dan strategi pembangunan pertanian nasional. Kegiatan mitigasi seperti penggunaan varietas padi rendah emisi metana dapat dilakukan, selama kegiatan tersebut tidak mengurangi produksi,” terangnya. (HVY/NF)