JAKARTA,Mekraf.id – Guna mencukupi kebutuhan pangan bagi 273 jiwa penduduk Indonesia, Kementerian Pertanian terus meluncurkan program-program utama. Diantaranya adalah Program Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), yaitu program yang berkelanjutan dan berkesinambungan dalam rangka meningkatkan penyediaan daging di dalam negeri.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa upaya peningkatan populasi sapi dan kerbau lokal melalui Sikomandan merupakan salah satu bagian komitmen pemerintah untuk mengurangi dominasi impor daging sapi dan kerbau di Indonesia.

“Salah satu upaya menggenjot dan meningkatkan populasi sapi lokal adalah melalui optimalisasi program inseminasi buatan secara massal yang telah dilakukan dari tahun 2017 hingga kini,” ungkapnya.

Mentan berharap dalam beberapa tahun ke depan produksi ternak sapi dan kerbau dalam negeri terus mengalami peningkatan, sejalan dengan keberhasilan Sikomandan.

Mentan SYL juga menyampaikan bahwa Program Sikomandan ini banyak membantu aktivitas para inseminator dan petugas pemeriksa kebuntingan di lapangan.

Dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 47 Jumat (17/12/21) di AOR BPPSDMP, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP),/Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa ada satu hal yang sangat menyentuh.

Bahwa dalam parameter global innovation index disitu ada variabel-variabel kualitas inovasi teknlogi. Semakin banyak inovasi teknologi di suatu negara maka global innovation semakin tinggi itu artinya bahwa negara tersebut maju.

“Namun ada yang lebih penting dari jumlah dan kualitas inovasi teknlogi, yaitu jumlah inovasi teknologi yang dilaksanakan oleh petani, praktisi pertanian, peternak, pekebun yang diimplementasikan di lahannya masing-masing,” ujar Dedi.

Saat ini jumlah inovasi teknologi sudah sangat berlimpah, namun belum diimplementasikan di lapangan. Hal ini berarti ada agent atau media yang memiliki tupoksi jembatan antara inovasi dan teknologi, jembatan antara peneliti dan petani dan jembatan tersebut adalah penyuluhan dan penyuluh.

Dedi menambahkan jika saat ini kegiatan penyuluhan jauh lebih penting dari inovasi teknolgi dan riset. Maka kita harus semangat, harus tingkatkan energi kita karena ini merupakan tugas kita Bersama untuk menyampaikan inovasi teknologi tersebut kepada petani, praktis pertanian, dan lainnya, sehingga inovasi tersebut betul-betul diimplementasikan di lapangan.

“Karena sesungguhnya inovasi teknologi jauh lebih penting daripada temuan inovasi teknologi tersebut didalam membangun suatu bangsa dan negara,” tegas Kabadan.

Narasumber MSPP, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah menyampaikan, saat ini pembangunan peternakan di tanah air sudah mencukupi, kecuali untuk daging sapi dan susu.

Sedangkan untuk unggas, ayam dan telur sudah surplus sehingga harga menjadi tidak stabil karena hasil produksi dari peternak di tanah air sangat berlimpah.

Yang paling utama saat ini, jumlah subtitusi para petani luar masih cukup besar yaitu daging sapi dan susu. Dalam mengantisipasi guna memperceat proses peningkatan populasi ada program yang disebut Sikomandan.

Penyuluh pertanian merupakan ujung tombak terdepan dalam hal implementasi dan keberhasilan program ini. Program ini mencakup kegiatan inseminasi buatan kepada ternak-ternak rakyat yang sudah saatnya dilaksanakan inseminasi buatan.

“Selanjutnya adalah pemeriksaan kebuntingan setelah 2 atau 3 bulan pasca inseminasi buatan dan terakhir adalah proses serta pelaporan kelahiran hewan. Seluruh proses SIKOMANDAN tercatat dalam satu sistem yaitu iSIKHNAS,” urai Nasrullah.

Semua rangkaian Sikomandan diperlukan keahlian khusus, untuk itu Nasrullah mengajak agar para penyuluh di lapangan segera diberikan pelatihan khusus peternakan agar semua program-program utama Kementan dapat diimplementasikan.

Bahkan di tahun 2022 target 4 juta induk yang akan dilakukan insemeniasi minimal 50% melahirkan.

Selain SIKOMANDAN, ada juga program Desa Korporasi, dimana Nasrullah berharap agar penyuluh ikut bersama-sama mendampingi peternak agar program desa korporasi tersebut tercapai. Karena jumlah ternak yang dipelihara dalam Desa Korporasi ada 1.000 ekor, yaitu 500 ekor indukan dan 500 ekor bakalan. Dan ini harus dikawal bersama-sama, khususnya tentang penanganan-penanganan budidaya, pakan dan kesehatan.

Sedangkan menurut Sekretaris Ditjen PKH Makmun, mengatakan bahwa arah kebijakan program dan target pembangunan peternakan tahun 2022 yaitu ketersediaan akses dan konsumsi pangan yang berkualitas, nilai tambah dan daya saing industri, dukungan manajemen.

Target yang ingin dicapai yaitu ketahanan asal ternak dan kesejahteraan peternak. Pendampingan dan pengawalan program dilakukan di lokasi sentra sapi 200.000 ekor per 200 paket dengan kluster 5 desa dalam 1 kecamatan 1 kabupaten. (HVY/NF)