JAKARTA,Mekraf.id – Kebijakan pemberian subsidi pupuk bertujuan untuk memenuhi kebutuhan petani sesuai dengan rekomendasi Permentan 47/2018 tentang Alokasi dan HET Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian.

Namun, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong agar petani tidak terlalu bergantung pada pupuk subsidi. Kementan mengarahkan petani untuk menggunakan pupuk hayati atau pupuk organik.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), menginginkan para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini.

“Hasil pertanian non pestisida itu kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” katanya.

Para petani, lanjutnya, hanya perlu diberi pelatihan oleh para penyuluh pertanian untuk memproduksi pupuk secara baik.

“Tinggal diajarkan bagaimana mengumpul kompos. Itu memang butuh keahlian dan itu peran penyuluh untuk mengajarkan,” ujarnya.

Melalui acara Ngobrol Asik (Ngobras) Volume 34, Selasa (7/12/2021), dari ruang AOR BPPSDMP, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pupuk hayati merupakan pupuk yang memanfaatkan mikroba/bio fertilizer untuk meningkatkan kesuburan tanah.

“Mikroba ibarat koki handal yang dapat membuat masakan menjadi lezat. Mikroba dapat mengubah unsur hara yang terikat atau tidak bisa digunakan tanaman menjadi bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman,” katanya.

Menurutnya, penyuluh harus mampu mendongkrak produktivitas karena itu adalah tugas penyuluh.

“Jika penyuluh bisa meningkatkan produktivitas berarti penyuluh tersebut merupakan penyuluh yang sukses dan luar biasa, salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktivitas yaitu dengan menggunakan pupuk hayati,” ujar Dedi.

Ngobrol Asik yang bertemakan Bio Az-War Technology dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi zoom dengan 198 participant, live streaming dan kanal youtube.

Sementara Narasumber Ngobras, Muhammad Azwar Fuadi, Duta Petani Milenial dan Formulator Bio Az-war Technology, mengungkapkan bahwa bahan organik tanah memiliki kemampuan mengikat air.

Menurutnya, jika kadar bahan organik tanah rendah, maka air yang tersimpan menjadi sedikit dan tanah akan cepat kering. Jika tanah memiliki bahan organik yang tinggi, maka kemampuan tanah menyimpan air akan lebih lama.

“Pemulihan kesuburan lahan dapat dilakukan dengan meningkatkan volume bahan organik, menggunakan pupuk berimbang dan aplikasi pupuk hayati (bio az-war technology). Bio az-war technology mengandung penambat N2, pelarut P, pemacu tumbuh (fitohormon), perombak bahan organic dan pengendali cekaman biotik dan abiotik,” ujarnya.

Muhammad Azwar juga menjelaskan bahwa peranan pupuk hayati bio az-war technology yaitu menyediakan atau memfasilitasi penyerapan unsur hara, memacu pertumbuhan tanaman dan mengurangi cekaman biotik dan abiotik, meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah, bioaktivator perombak bahan organik, mengurangi kebutuhan pupuk kimia 30-50%.

“Saat ini telah dibuat demplot sebagai percontohan bagi petani bahwa dengan menggunakan bio az-war technology dengan 50% saja pupuk kimia dari rekomendasi, dapat meningkatkan produktivitas dengan memperbanyak anakan produktif dan memaksimalkan pengisian padi,” tutupnya. (HVY/NF)