JAKARTA,Mekraf.id – Akibat pemanasan global, perubahan iklim tidak dapat dihindari. Kondisi ini akan berdampak luas diberbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian. Kementerian Pertanian mengantisipasi kondisi tersebut melalui inovasi teknologi.

Hal ini dilakukan sebagai antisipasi perubahan pola curah hujan, peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrem, serta kenaikan suhu udara dan permukaan air laut merupakan dampak serius dari perubahan iklim yang dihadapi Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), meminta semua pihak yang terkait dengan sektor pertanian untuk bersiap menghadapi dampak pemanasan global agar ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga.

“Besok kita akan menghadapi krisis air, ada kemarau tanpa perkiraan. Besok di tengah banjir ada krisis air. Dua tahun pandemi kita lewati, tapi hari ini dan besok tantangan sangat besar dan menjaga lingkungan juga sangat penting dilakukan dalam aktivitas pertanian,” ujar Mentan SYL.

Ia menekankan langkah antisipasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian harus menggunakan teknologi dan praktik berbasis pada bukti saintifik. Dia meminta ada varietas yang bisa tahan air pada saat banjir datang dan varietas yang mampu berproduksi di saat kurang air.

Mentan SYL juga menegaskan bahwa Kementerian Pertanian tidak bisa sendirian dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional saat kondisi pemanasan global.

Pada acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 45 secara live, Jumat (03/12/2021), di BPP Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi, yang didampingi oleh Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Bustanul Arifin Caya, mengatakan radiasi matahari yang lolos dari saringan atmosfir memanaskan bumi.

“Bumi semakin panas, gas rumah kaca menyebabkan bumi semakin panas,” katanya.

Dedi juga menjelaskan perbedaan dari pemanasan global dan perubahan iklim.

“Pemanasan global merupakan peningkatan suhu di permukaan bumi yang disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, sedangkan perubahan ilkim fenomena yang disebabkan oleh pemanasan global, mempengaruhi parameter iklim, yaitu suhu, tekanan, kelembaban, kecepatan angin dan radiasi sehingga menyebabkan terganggunya sistem iklim dan bersifat tidak balik,” katanya.

Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29% dengan upaya sendiri di bawah Bussiness as Usual [BAU] pada 2030, sementara dengan dukungan internasional hingga 41%.

“Produktivitas pertanian harus kita genjot tapi lingkungan harus diperhatikan juga,” ujar Dedi.

Selain itu, dibutuhkan juga aksi mitigasi dimana setiap aksi harus bertujuan pada penurunan emisi GRK, tetapi harus mendukung upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.

Beberapa inovasi teknologi untuk menurunkan emisi GRK mulai diterapkan petani, diantaranya melalui Climate Smart Agriculture (CS) yang sedang digencarkan oleh program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Seperti menerapkan pengairan berselang, penggunaan bahan organik matang, penggunaan pestisida nabati, varietas padi rendah emisi metana, penggunaan kalender tanam, jarwo dan lain sebagainya.

“Inovasi-inovasi teknologi pertanian terebut bisa menjadi andalan dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman dan ternak serta melestarikan kesuburan tanah sehingga meningkatkan pendapatan dan nilai tambah petani, ramah lingkungan dan tangguh terhadap perubahan iklim,” tutup Dedi. (HVY/NF)