JEMBER,Mekraf.id – Pertanian merupakan salah satu sektor yang paling berperan besar terhadap perbaikan ekonomi. Karena itulah berbagai pihak termasuk para pelaku usaha dituntut untuk bisa membangun pertanian.

Karena sektor pertanian sangat vital, Kementerian Pertanian berupaya dengan berbagai kebijakan dan program untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian. Termasuk melalui komoditas High Value Crop yang dijalankan lewat program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). High Value Crop adalah salah satu solusi untuk meningkatkan nilai lahan pertanian dan sangat menguntungkan bagi petani.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa pertanian itu keren dan pertanian adalah bisnis yang menguntungkan.

“Bertani itu usaha yang penuh nilai ibadah karena sebagai penyedia pangan bagi 273 juta masyarakat Indonesia sekaligus menjamin ketahanan pangan nasional,” katanya.

Guna mewujudkan pencapaian ketahanan pangan maka keberadaan para petani menjadi sangat vital.

“Dengan menerapkan teknologi-teknologi yang direkomendasikan melalui pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Kementan agar petani menjadi unggul, profesional dan punya daya saing,” ujar Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mendukung hal itu. Karena salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian ialah kapasitas sumber daya manusianya.

“Maka, para pemangku kepentingan di bidang pertanian harus memiliki kemauan dan semangat yang kuat dalam menjaga dan mengawal ketersediaan pangan tanpa terkecuali SIMURP,” katanya.

Guna mendorong pengembangan komoditi bernilai ekonomi khususnya di Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember telah melaksanakan Kegiatan Workshop Komoditas HVC, Sabtu 27 November 2021.

Diyah Suliatypwati, Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, mengatakan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini selain untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pengertian Komoditas HVC, juga untuk meningkatkan pemahaman dan keuntungan yang diperoleh jika menanam komoditas HVC.

“Salah satu contoh komoditas HVC adalah cabai, bawang merah, melon, dan semangka. Pemilihan komoditas HVC yang akan dikembangkan di suatu wilayah harus didasarkan pada permintaan pasar/konsumen, harga, serta varietas yang adaptif pada kondisi setempat,” ujar Diyah.

Diyah juga menambahkan tentang penguatan kelembagaan dan korporasi petani dalam upaya peningkatan posisi tawar petani di pasar sertta analisis usaha tani dan penguatan kemitraan antara pengusaha dengan petani.

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama serta merubah pola pikir petani agar mau menanam komoditas yang bernilai ekonomi tinggi, katanya.

Kerjasama antara perusahaan dan pelaku utama dalam bentuk kemitraan juga akan menjadi nilai tambah yang dapat terbentuk setelah adanya kegiatan ini. Workshop ini juga menghadirkan narasumber dari akademisi, pakar, penyuluh, perwakilan dari perusahaan (PT. Indofood Sukses Makmur dan PT. Bisi International TBk).

Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian Pusat, mengatakan jika Workshop komoditas HVC diharapkan dapat merubah pola pikir petani sehingga dapat meningkatkan kreatifitas petani dan memperbaiki posisi tawar petani sekligus dipergunakan untuk melihat dampak dari pelaksanaan kegiatan ini apakah kiranya perlu adanya peningkatan pembelajaran

“Dengan adanya kegiatan workshop ini petani diajarkan pemilihan komoditas pertanian yang tepat dan mempunyai nilai jual yang tinggi dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarga petani,” terangnya. (SP/NF)