JAKARTA,Mekraf.id – Pertanian organik merupakan salah satu dari sekian banyak cara yang dapat mendukung pelestarian lingkungan. Lewat pertanian organik, Kementerian Pertanian juga mengajak seluruh insan pertanian untuk menjaga keamanan pangan.

Hal ini diungkap dalam acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 33, Selasa (30/11/2021). Dalam kesempatan itu, disampaikan jika sistem produksi pertanian organik didasarkan pada standar produksi yang spesifik dan teliti dengan tujuan untuk menciptakan agroekosistem yang optimal dan lestari berkelanjutan baik secara sosial, ekologi maupun ekonomi dan etika.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengaku ingin para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik saat ini.

“Hasil pertanian non pestisida itu kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” jelas Mentan SYL.

Selanjutnya para petani diberi pelatihan oleh para penyuluh pertanian untuk memproduksi pupuk secara baik.

“Tinggal diajarkan bagaimana mengumpul kompos. Itu memang butuh keahlian dan itu peran penyuluh untuk mengajarkan,” tegas Mentan.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa ketahanan pangan saja belum cukup.

“Sekarang muncul konsep keamanan pangan, artinya pangan yang kita konsumsi harus betul-betul aman,” katanya.

Dedi menambahkan, pangan tidak boleh tercemar oleh bahan-bahan agrokimia yang dapat mencemari tubuh kita.

“Pendampingan diperlukan kepada penyuluh dan petani bagaimana caranya membuat pupuk organik, kompos dan pestisida nabati. Selain menghimbau untuk menggunakan bahan bahan organik, kita juga mengarahkan apa saja pengganti dari bahan kimia tersebut,” ujar Dedi.

Petani diarahkan untuk beralih dengan menggunakan pupuk organik, tidak bergantung kepada pupuk kimia bersubsidi. Selain itu juga menggunakan pestisida nabati.

Narasumber Ngobras, Imam Hanafi, penyuluh pertanian Kota Bogor, menceritakan latar belakang berkembangnya pertanian organik di Kota Bogor awal mulanya melihat sumber daya alam, ada lahan sawah ada 23 Ha yang masih konvensional pola tanamnya.

Biasanya ada pertemuan setiap bulannya, dan dari situlah mulai mengenalkan cara tanam yang awalnya tidak beraturan menjadi lebih serempak. Lalu selanjutnya memperkenalkan pertanian yang organik.

Tantangan yang dihadapi dalam pertanian organik cukup banyak, dari segi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam. Dari sisi sumber daya manusia yaitu kebiasaan petani.

“Memang sulit mengubah kebiasaan petani, namun dalam suatu komunitas pasti ada satu orang ketua yang dapat mengubah kebiasaan petani tersebut,” katanya.

Sedangkan Ketua Poktan Lemah Duhur, Muhammad Aneng yang hadir mendampingi Imam Hanafi mengatakan bahwa saat ini telah beralih dari pertanian non organik ke pertanian organik. Penggunaan pupuk organik menyelamatkan alam dan tanaman lebih sehat.

Sebagai informasi pertanian organik di Kota Bogor saat ini sudah memiliki sertifikat dari LSO dan setiap awal tahun disurati untuk mengingatkan sertifikasi ulang. Berkas yang harus disiapkan ada 14 item, diantaranya peta lokasi, peta lahan, sejarah tata guna lahan, terangnya. (HVY/NF)