PURWOREJO,Mekraf.id – Kementerian Pertanian tidak hanya fokus pada peningkatan produktivitas untuk menjaga ketahanan pangan. Dampak pemanasan global pun ikut diantisipasi dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), meminta kepada semua pihak yang terkait dengan sektor pertanian untuk bersiap menghadapi dampak pemanasan global agar ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga.

“Perubahan iklim memang memberikan efek secara nyata pada sektor pertanian. Baik dari sisi pola tanam, produksi dan pengendalian hama penyakit. Perubahan iklim dapat mengakibatkan penurunan produksi dan kegagalan panen. Jika hal ini terjadi, pada akhirnya dapat mengakibatkan kerawanan pangan,” katanya.

Melalui program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), Kementan secara aktif terus berupaya untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang diklaim banyak disumbangkan dari pertanian.

“CSA SIMURP memiliki dampak positif untuk pertanian. SIMURP pun sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian yang difokuskan pada tiga tujuan pembangunan pertanian,” tutur Mentan SYL.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi. Menurutnya, CSA SIMURP selaras dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian yang memfokuskan pembangunan pertanian melalui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan.

Dedi mengatakan, untuk mengatasi perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian.

“Melalui CSA atau Pertanian Cerdas Iklim, SIMURP dapat menggenjot peningkatan sumber daya manusia. Hal ini menjadi penting sebab, SDM sangat berperan dalam membangun pertanian berkelanjutan,” terang Dedi.

Untuk menunjukkan adanya perubahan kadar emisi gas rumah kaca pada kegiatan pertanian setelah intervensi CSA, perlu dilakukan uji emisi gas rumah kaca.

Atas pertimbangan tersebut, Kabupaten Purworejo melaksanakan kegiatan pengukuran Emisi Gas Rumah Kaca Tahun 2021 di lahan sawah demplot CSA SIMURP dan lahan sawah non demplot CSA SIMURP.

Pengukuran Emisi GRK dilakukan di wilayah SIMURP di Kabupaten Purworejo yang dilaksanakan di 4 (empat) BPP tepatnya di BPP Purworejo, Bayan, Banyuurip dan Gebang.

Turoso, Penyuluh Pertanian pendamping SIMURP, menyampaikan jika pengukuran dilaksanakan sebanyak tiga kali pengukuran pada tanaman padi. Yaitu pada saat tanaman umur 30 hari, 60 hari dan umur 90 hari.

Hasil pengukuran setelah di lakukan uji laboratorium GRK di Balingtan Pati, menunjukkan bahawa dengan perlakuan Penerapan CSA mampu menurunkan emisi GRK sebesar 28,29 persen.

“Hal ini membuktikan jika penerapan CSA di petani sangat layak untuk dilanjutkan sebagai mitigasi terhadap iklim dunia yang sangat memberikan dampak terhadap dunia pertanian,” terangnya. (TRS/SWR/NF)