PURBALINGGA,Mekraf.id – Sebagai salah satu sektor yang berperan besar terhadap perbaikan ekonomi, berbagai terobosan dilakukan untuk mendukung pertanian Indonesia.

Kementerian Pertanian pun melakukan sejumlah inovasi teknologi guna menggenjot produktivitas. Kerjasama dengan berbagai pihak juga tengah digalakkan, diantaranya melalui Universitas Jenderal Soedirman yang telah menghasilkan Padi Inpago Unsoed Protani.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, selalu menegaskan pentingnya menjaga ketahanan pangan yang menjadi kewajiban seluruh jajaran Kementerian Pertanian.

Dalam mewujudkan ketahanan pangan keberadaan para petani juga menjadi sangat vital. Untuk itu petani perlu dibekali dengan inovasi dan teknologi pertanian.

”Dengan menggunakan teknologi-teknologi yang direkomendasikan melalui pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Kementan, maka hal ini harus bisa membuat petani menjadi unggul, profesional dan punya daya saing,” tegas Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan hal yang sama.

“Penyuluh dan petani dalam mengelola usaha taninya harus mampu beradaptasi dan melakukan mitigasi adanya perubahan iklim serta melek teknologi informasi,” katanya.

Dedi menambahkan, penyuluh juga harus aktif melakukan penyuluhan diantaranya tentang Climate Smart Agriculture (CSA) Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) yang menerapkan teknologi hemat air, menggunakan pupuk berimbang, pengendalian hama yang ramah lingkungan dan pengolahan lahan yang baik.

“Sehingga mamu meningkatkan produksi dan produktivitas serta pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Kabupaten Purbalingga sebagai salah satu lokasi SIMURP menindaklanjutinya dengan menanam varietas padi Inpago pada kelompok tani satelit, yaitu Kelompok Tani Marga Utama Desa Penican Kecamatan Kemangkon. Padi hasil rakitan para pemulia dari Unsoed itu ditanam dilahan seluas 1 hektar lebih.

Padi Inpago merupakan hasil seleksi persilangan padi yang disukai petani yaitu Ciherang dengan G39 dan merupakan padi gogo aromatik koleksi Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Unsoed yang berdaya hasil tinggi dan tahan kekeringan.

Kepala Dinas Pertanian Purbalingga, Mukodam menyampaikan rasa terimakasih atas sinergi yang telah terjalin. Mukodam berharap padi hasil rakitan para pemulia Unsoed dapat ditanam oleh para petani sesuai kondisi agroklimat dan syarat tumbuh dari padi tersebut.

Terpisah, Dosen Pasca Sarjana Unsoed Totok Agung Dwi Haryanto mengatakan bahwa Padi Inpago Unsoed Protani merupakan hasil seleksi persilangan padi yang disukai petani yaitu Ciherang dengan G39 dan padi gogo aromatik koleksi Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Unsoed yang berdaya hasil tinggi dan tahan kekeringan.

“Padi ini memiliki keunggulan daya hasil tinggi (9,06 ton per Ha) dan memiliki keunikan sebagai padi fungsional yaitu kandungan proteinnya yang tinggi. Keunggulan lain padi gogo protein tinggi ini adalah ketahanannya terhadap hama dan penyakit tanaman. Inpago Unsoed Protani termasuk kategori agak tahan sampai tahan terhadap empat ras penyakit blas yang diakibatkan oleh jamur Pyricularia grisea,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa profil tanaman yang pendek (96 cm) memberikan keunggulan tersendiri yaitu tidak beresiko rebah. Pada umumnya padi gogo memiliki postur yang tinggi sehingga beresiko rebah jika terjadi hujan angin pada fase pengisian biji.

Performa ini semakin memantapkan keunggulan Inpago Unsoed Protani dibanding varietas padi gogo varietas unggul lainnya.

Kepala BPP Kecamatan Kemangkon, Naniek Istiqhomah, mengatakan dengan melalui CSA SIMURP panen di Desa Penican, padi Protani menunjukan performa sangat baik. Hasil ubinannya 6,9 kg atau setara dengan 10,4 ton perhektar.

“Pertanian makin maju dan keren, ditambah lagi dengan adanya SIMURP yang mengajarkan petani untuk pintar mengolah pertanian yang ramah lingkungan dan pintar membaca perubahan iklim yang semakin ekstrim,” terangnya. (SB/SWR/NF)