JAKARTA,Mekraf.id – Kementerian Pertanian terus berupaya mewujudkan kedaulatan pangan. Produksi komoditas pun dimaksimalkan. Salah satunya dengan program pengembangan kawasan komoditas bawang merah, yang menjadi komoditas strategis Kementan.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan pertanian merupakan salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.

“Walau dalam kondisi pandemi Covid-19, pertanian don’t stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan,” tegas Mentan SYL.

Pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan Volume 30, Selasa (9/11/2021), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyampaikan komoditas bawang merah merupakan program unggulan strategis Kementan.

Menurutnya, sedikit perubahan pada harga bawang merah, akan mendongkrak inflasi negara.

“Untuk meningkatkan komoditas pertanian diperlukan kerjasama antara tiga serangkai, yaitu peneliti yang menghasilkan inovasi teknologi pertanian, penyuluh pertanian yang merupakan jembatan inovasi teknologi pertanian dan petani sebagai mengguna inovasi teknologi pertanian,” katanya.

Dedi juga menyerukan kepada penyuluh pertanian supaya terus meningkatkan produktivitas di wilayahnya masing-masing. Ia pun mengapresiasi penyuluh pertanian yang telah melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang penyuluh pertanian.

Narasumber Ngobras, Sutamta, penyuluh pertanian Kabupaten Kutai Kertanegara, pada paparannya mengatakan Wilayah BPP Separi ada 5 (lima) desa binaan yang memiliki lahan yang cukup subur dengan ketinggian tempat antara 100-500 DPL dan ketersedian air yang memadai atau curah hujan ada sepanjang tahun.

“Saat ini bawang merah dari biji merupakan hal yang baru bagi penyuluh dan petani sehingga harus perlu belajar,” jelas Sutamta.

Narasumber lainnya, Cashuri, petani bawang merah dari Kabupaten Kutai Kertanegara, berbagi pengalamannya tentang budidaya komoditas bawang merah.

“Persemaian bawang merah memerlukan kebutuhan bibit 2-4 kg/ha, pengolahan tanah, pemberian pupuk organik kandang dan pupuk SP36,” ujarnya.

“Sedangkan untuk pengolahan tanah setelah semai yaitu pemberian pupuk kandang 1/2 ton, pupuk organik 1 ton, kapur 1 ton dan SP36 sebanyak 5 kwintal,” ujar Cashuri.

Lebih lanjut Cashui mengatakan umur panen komoditas bawang merah yaitu 75-80 hari, setelah dicabut kemudian dihamparkan selama 3 hari selanjutnya setelah layu dikeringkan dengan cara diangginkan sampai kering.

Pengendalian hama dan penyakit jamur dilakukan satu minggu sekali dengan menggunakan fungisida antracol, dithane, amistartop sebanyak satu sendok makan.

“Sedangkan untuk pengendalian ulat dilakukan 1 minggu sekali dengan curacron atau lanat yang dicampurkan dengan greentik,” terangnya. (HVY/NF)