JAKARTA,Mekraf.id – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada semua pihak yang terkait dengan sektor pertanian untuk bersiap menghadapi dampak pemanasan global agar ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga.

“Besok kita akan menghadapi krisis air, ada kemarau tanpa perkiraan. Besok di tengah banjir ada krisis air. Dua tahun pandemi kita lewati, tapi hari ini dan besok tantangan sangat besar,” kata Mentan Syahrul dalam peringatan Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Perubahan iklim memang memberikan efek secara nyata pada sektor pertanian. Baik dari sisi pola tanam, produksi dan pengendalian hama penyakit. Perubahan iklim dapat mengakibatkan penurunan produksi dan kegagalan panen. Jika hal ini terjadi, pada akhirnya dapat mengakibatkan kerawanan pangan.

Pemanasan global atau global warning adalah salah satu fenomena perubahan iklim yaitu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan bumi. Sedangkan perubahan iklim yaitu fenomena yang disebabkan oleh pemanasan global, mempengaruhi parameter iklim diantaranya suhu, tekanan, kelembaban, kecepatan angin dan radiasi.

Kementerian Pertanian melalui program-program utamanya secara aktif terus berupaya untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang diklaim banyak disumbangkan dari pertanian. Emisi GRK merupakan salah satu penyebab dari pemanasan global. GRK sebenarnya merupakan gas alami yang berasal dari bumi jika berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan suhu yang semakin lama berbahaya bagi kehidupan manusia.

Mentan SYL juga menekankan langkah antisipasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian dengan menggunakan teknologi dan praktik berbasis pada bukti scientific.

“Harus ada varietas yang bisa tahan air pada saat banjir datang dan varietas yang mampu berproduksi di saat kurang air,” ujar Mentan SYL.

Kementerian Pertanian tidak bisa sendirian dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional saat kondisi pemanasan global. Karena itu Mentan SYL berharap semua pihak baik dari kementerian, lembaga lain, pemerintah daerah, universitas, perbankan bersama-sama mempersiapkan ketahanan pangan nasional.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian (MSPP) Volume 40, Jumat (29/10/2021) mengatakan pertanian adalah industri yang menghasilkan uang banyak dan menguntungkan karena memiliki faktor produksi yang melimpah dan gratis. Pertanian perlu cahaya yang banyak dan air yang banyak dan semuanya itu berlimpah dan gratis.

“Selain itu pertanian luar biasa dan kita harus memanfaatkan industri pertanian seefektif mungkin, diantaranya dengan memanfaatkan limbah secara maksimal, ” tegasnya.

Industri pertanian harus zero waste atau non limbah, integrasi tanaman dan ternak harus menganut sistem zero waste. Jika sudah mengaplikasikan zero waste berarti tidak mengganggu lingkungan dan produktivitas lebih efisien.

“Limbah harus dimanfaatkan, tidak boleh menjadi mubazir. Jika kita menghasilkan zero waste artinya faktor produksi meningkat, karena di saat yang sama limbah zero waste menjaga serta melestarikan lingkungan,” ujar Kabadan.

Sedangkan Narasumber MSPP Ali Pramono, Peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingktan) Pati, mengatakan prinsip pertanian ramah lingkungan berkelanjutan diantaranya meliputi produktivitas meningkat, konservasi tanah dan air serta pemanfaatan limbah. Selain itu juga diterapkannya pengendalian OPT terpadu, sumber daya lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim dan integrasi tanaman ternak.

Sistem Integrasi Tanaman Ternak (SITT) sangat bisa dikembangkan. Yakni sistem yang saling menguntungkan dengan limbah tanaman padi bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan kotoran ternak dalam bentuk kompos digunakan sebagai pupuk kandang/pupuk organik.

“Sistem Integrasi Tanaman Ternak sangat berpeluang dikembangkan, baik pada luasan lahan pertanian yang terbatas maupun lahan pertanian yang luas, serta mampu meningkatkan produksi, populasi, produktivitas, dan daya saing produk peternakan,” jelas Ali.

Menurutnya inovasi bidang peternakan yang dapat dikembangkan yaitu perbaikan kualitas pakan dan suplement yang dapat mengakibatkan penurunan emisi CH4 dari fermentasi enterik, selain itu juga dapat dilakukan dengan pengelolaan kotoran hewan melalui biogas dan pengelolaan bahan organik.

“Sistem ini sudah ramah lingkungan namun harus diperkaya lagi sehingga produktivitas meningkat dan petani harus menguasai sistem ini. Mari kita galakkan SITT sehingga petani sejahtera dan alam terjaga kelestariannya,” terangnya. (HVY/NF)