KATINGAN,Mekraf.id – Kementerian Pertanian terus mengembangkan komoditas tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dan menguntungkan bagi petani atau High Value Crop (HVC) selain padi, yang sedang digencarkan melalui Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Pilihan komoditas pertanian off season yang layak dikembangkan antara lain cabe dan bawang merah. Hal ini membuktikan jika pertanian itu keren dan mudah.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menilai pertanian ibarat emas seratus karat dan merpati putih yang tidak pernah ingkar janji. Pasalnya pertanian benar-benar menjanjikan penghasilan besar.

“Dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan maka keberadaan para petani menjadi sangat vital. Untuk menerapkan teknologi-teknologi yang direkomendasikan, maka pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Kementan harus bida membuat petani menjadi unggul, profesional dan punya daya saing,” ujar Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menyambut baik Program SIMURP dan terus mendorong Pengelola SIMURP di pusat maupun daerah menggenjot realisasi anggaran sesuai dengan targetnya. Hal ini tentunya harus dapat meningkatkan produksi pertanian dan memberi keuntungan.

Melalui Program SIMURP petani diajarkan untuk cerdas. Cerdas mengolah tanah, air dan cerdas membaca kondisi iklim yang fenomenal. Salah satu tujuan SIMURP adalah mengurangi emisi GRK karena padi sawah sering dituduh sebagai penyumbang GRK terbesar terutama gas metan yang memiliki efek panas 25 kali lipat dibandingkan GRK lainnya seperti CO2.

“Untuk itu GRK harus kita kendalikan karena bisa menyebabkan pemanasan global dan kalau pemasanan global terjadi begitu cepat bisa membahayakan kehidupan umat manusia di dunia. Program SIMURP diharapkan dapat menekan emisi GRK, maka program SIMURP harus kita dukung,” tegasnya.

Sementara itu guna mendorong pengembangan komoditi bernilai ekonomi khususnya di BPP Pegatan, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah telah melaksanakan Workshop Komoditi HVC.

Melalui workshop tersebut diharapkan dapat mengembangkan komoditi-komoditi alternatif yang bernilai ekonomi tinggi selain padi di samping itu juga memberikan pemahaman teknis budidaya dan non teknis yang bernilai ekonomis dalam pengelolaan komoditi HVC.

Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhajirin menyampaikan bahwa kegiatan SIMURP di Kalimantan Tengah harus diseriusi. Hal ini sebagai upaya untuk sungguh-sungguh meningkatkan kemandirian petani dan kedaulatan pangan.

Sedangkan Aman Nurrahman Kahfi selaku Widyaiswara Pendamping Program SIMURP dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang berpesan jika setelah kegiatan workshop selesai maka petani mempunyai alternatif untuk menanam tanaman bernilai ekonomi tinggi disamping komoditas utama padi.

“Petani yang selama ini menanam padi sebagai tanaman utama, mempunyai alternatif untuk memilih budidaya HVC sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani sebagaimana salah satu tujuan CSA,” ujarnya

Sementara, Slamet Wahyudi salah stu petani peserta Workshop HVC mengaku siap mengambil alternatif untuk menanam cabai. Namun dalam pemasaran cabai masih terkendala oleh transportasi yang mahal karena harus melalui jalur air.

“Kendala utama yang dihadapi petani di Katingan Kuala adalah akses yang dilalui hanya dengan jalur air, sehingga biaya angkut produk pertanian relatif lebih mahal. Belum lagi jika ada kendala di jalan akan dapat menurunkan kualitas produk segar,” katanya.

Harapan besar disampaikan Slamet agar Pemerintah dapat membantu menghubungkan Katingan Kuala dengan ibukota Kabupaten melalui jalan darat, sehingga hasil pertanian dari Katingan Kuala dapat dengan mudah didistribusikan ke luar daerah dengan biaya yang terjangkau. (SA/AN/NF)