INDRAMAYU,Mekraf.id – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Salah satunya melalui Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP)

Melalui Program SIMURP telah dilakukan pendekatan pembinaan dan optimalisasi kelembagaan wanita tani dalam pengelolaan usaha tani. Salah satunya terhadap Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Indramayu.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, pertanian hrus tetus berjalan dalam keadaan apapun. Di masa pandemi Covid-19, pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu survive dan menjadi penopang roda perekonomian serta memenuhi pangan bagi 273 jiwa penduduk Indonesia.

Selain itu, keberadaan para petani juga sangat vital dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan. Dalam penerapan teknologi pertanian yang direkomendasikan, Mentan SYL berharap melalui pelatihan-pelatihan yang sudah dilaksanakan jajarannya dapat mendorong petani menjadi unggul, profesional dan berdaya saing.

“Hal ini telah dilakukan Kementan dengan meningkatkan produktivitas pangan dan usaha tani, diantaranya melalui pengelolaan pertanian cerdas iklim dan pengaturan air yang saat ini sudah dilaksanakan melalui Program SIMURP,” ujar Mentan SYL.

“Bertani itu keren ditambah lagi dukungan program CSA SIMURP. Program SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman,” katanya lagi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menyambut positif Program SIMURP. Pandemi Covid-19 ini masih merajalela dan melanda hampir semua negara tak terkecuali Indonesia, namun pertanian tetap harus berjalan terus dan kunci keberhasilan pembangunan pertanian adalah peningkatan produktivitas.

“Peningkatan produktivitas ada di tangan petani dan penyuluh. Karena itu kami siap untuk genjot produktivitas dengan, mensupport program-program pertanian termasuk Program SIMURP,” ujar Dedi.

Sebagai alternatif peningkatan usaha ekonomi rumah tangga petani di pedesaan adalah dengan pemberdayaan KWT. Yakni dengan memberikan bimbingan teknis dan pelatihan sesuai usaha yang akan dijalankan. Dan guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan jenis kegiatan yang bisa dilakukan oleh anggota KWT, telah dilaksanakan Bimtek bagi anggota KWT Melati.

Bimtek bertujuan agar anggota KWT dapat mengolah berbagai macam olahan dari komoditas pertanian yang akan dikembangkannya. Sebanyak 30 orang anggota KWT Melati selama ini menjalankan usaha mengolah pisang menjadi keripik atau snack ringan selain tetap menggarap padi di sawah.

Momon Sutarman selaku Koordinator BPP Bongas, berharap agar anggota KWT Melati dapat memahami kunci sukses membuka usaha dan mengetahui peluang pasar. Diantaranya dengan cara mengolah industri rumah tangga untuk dipasarkan di modern market.

“Diharapkan anggota KWT Melati mampu meningkatkan pengelolaan manajemen keuangan dan pengolahan usahanya agar menjadi lebih baik lagi sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggotanya,” katanya. (KUS/NF)