JAKARTA,Mekraf.id – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo selalu menegaskan pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Sejauh ini sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling berperan besar terhadap perbaikan ekonomi. Hal tersebut menuntut upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk para pelaku usaha, untuk bisa membangun pertanian. Mentan juga menegaskan pentingnya menjaga ketahanan pangan yang menjadi kewajiban seluruh jajaran Kementerian Pertanian.

“Berdasarkan pemantauan kami, situasi ketahanan pangan saat ini dalam kondisi yang cukup stabil dan terkendali dan terus berkoordinasi dengan satgas pangan, Kemendag dan stakeholder terkait untuk mengawal agar stabilitas pasokan dan harga pangan tetap terjaga,” jelas SYL.

Meski begitu Kementerian Pertanian selalu menekankan pentingnya pertanian berwawasan lingkungan. Yakni sistem pertanian yang memperhatikan aspek ekologi dan sosial ekonomi untuk menjamin produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup petani. Terwujudnya kedaulatan, keamanan pangan yang berkelanjutan perlu didukung oleh teknologi ramah lingkungan.

Sementara, dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 35 Jumat (01/10/2021) di Ruang AOR BPPSDMP, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nusyamsi menyampaikan jika berbicara mengenai pangan ada istilah swasembada pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan dan keamanan pangan.

Swasembada pangan artinya kita mampu menyediakan pangan sendiri dengan keringat sendiri di lahan sawah atau di lahan milik sendiri. Sedangkan kemandirian pangan artinya mampu menyediakan pangan secara mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Sedangkan ketahanan pangan cakupannya cukup luas yaitu aspek ketersediaan pangan dan distribusi konsumsi pangan yang merupakan salah satu aspek ketahanan pangan nasional.

“Jika pangan cukup maka kita aman damai tapi kalau pangan bermasalah atau sampai krisis pangan maka berbagai krisis akan lahir. Macam-macam krisis bisa lahir diawali dari ketahanan pangan,” ujar Dedi.

Dedi menambahkan yang tidak kalah pentingnya dari keamanan pangan adalah pangan yang dikonsumsi harus aman, harus bebas dari bahan pencemar, harus bebas dari residu bahan pestisida dan harus dari bebas logam berat yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya jika mengkonsumsinya.

“Padi sawah sering dituduh menghasilkan GRK terutama gas metan yang memiliki efek panas 25 x lipat dibandingkan GRK lainnya seperti CO2. Untuk itu GRK harus kita kendalikan karena bisa menyebabkan pemanasan global dan kalau pemasanan global terjadi begitu cepat bisa membahayakan kehidupan umat manusia di dunia,” tegas Kabadan.

Kabadan menambahkan keamanan pangan menjadi kunci yang sangat penting untuk diperhatikan. Setelah ada revolusi hijau penggunaan bahan agrokimia, pupuk, pestisida, hormon, residu pestisida, logam berat di sektor pertanian yang tujuan awal penggunaannya baik yaitu untuk meningkatkan produktivitas namun menyebabkan kerusakan lingkungan.

Produk pangan juga harus bebas dari bahan pencemar yang dapat mengganggu kesehatan manusia baik secara cepat maupun lambat.

“Untuk itu gunakanlah pestisida nabati, bijak menggunakan pupuk dan atur penggunaan air. Kita memperlakukan tanah, air dan tanaman juga harus memperhatikan lingkungannya dan semua itu diawali untuk keamanan pangan kita,” tegasnya.

Narasumber MSPP Anicetus Wihardjaka, Peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) menyampaikan pentingnya optimalisasi lahan sawah tadah hujan ramah lingkungan. Semua itu terdiri dari lima komponen kelola lahan ramah lingkungan yaitu penggunaan varietas adaptif, penggunaan pestisida nabati dalam konsep pengendalian OPT terpadu, pemupukan berimbang, pemberian bahan organik dan pengaturan air/teknologi embung.

Secara rinci Anicetus Wihardjaka menjelaskan salah satu yang dapat dilakukan dalam pertanian ramah lingkungan adalah dengan melakukan pemupukan berimbang yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanahnya. Pemupukan berimbang juga memberikan manfaat antara lain meningkatkan hasil, meningkatkan efisiensi pemupukan, meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga kelestarian lingkungan serta menghemat pupuk.

Sedangkan penggunaan kompos kotoran ternak memiliki keunggulan diantaranya menyuburkan tanah, mengikat pencemar residu insektisida di lahan budidaya padi sawah.

“Untuk penggunaan pestisida nabati dapat digunakan karena murah dan mudah didapat serta melimpah di alam. Bahkan, jika pemakaian dosis tinggipun relatif aman, produk pertanian yang dihasilkan lebih sehat, kesehatan tanah lebih terjaga, dapat mempertahankan keberadaan musuh alami,” ucap Anicetus.

Terakhir menurutnya pertanian bisa hebat dan petani itu keren jika pengelolaan lahan pertanian memperhatikan aspek keseimbangan interaksi antara tanaman dan organisme lain serta lingkungan biofisik. Hal itu perlu dilakukan guna mempertahankan keberlanjutan pertanian, dan peningkatan produktivitas juga keamanan pangan. (HVY/NF)