SORONG,Mekraf.id – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap petani, khususnya petani milenial, dapat memanfaatkan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian untuk mendongkrak peningkatan produktivitas pertanian di Sorong, Papua Barat. Hal itu disampaikan Mentan SYL saat peresmian Pelatihan Kewirausahaan Petani Milenial (4/10/2021).

Menurutnya KUR Pertanian dapat menjadi pendorong peningkatan produktivitas di samping penggunaan pupuk yang tepat. Pada kesempatan yang sama, Mentan SYL menegaskan memiliki harapan yang besar kepada petani milenial untuk mengikuti program KUR Pertanian ini. “Sebab, merekalah pemegang tongkat estafet legasi pertanian Indonesia,” ujar Mentan SYL. 

Mentan SYL menilai perlu adanya bimbingan dinas pertanian setempat untuk memberikan akses maksimal terhadap KUR Pertanian. “KUR Pertanian memiliki bunga yang rendah yakni 6 persen. KUR Pertanian tetap jadi pilihan utama dan sangat dianjurkan bagi para petani daerah agar mandiri berwirausaha, mandiri bertani dan modern dalam inovasi,” tutur Mentan SYL.

Untuk mendukung permodalan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor pertanian disiapkan senilai Rp500 miliar. Petani Papua bisa mengakses pembiayaan tersebut untuk mendukung pengembangan budidaya pertanian mereka. tersedia pula voucher KUR Pertanian hingga Rp50 juta untuk 1 orang petani dalam jangka waktu 2 tahun. 

Sementara Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, banyak cara yang bisa dilakukan para petani agar semakin produktif. Selain pelatihan teknis, Dedi menyebut petani juga bisa mengikuti dan mengimplementasikan pelatihan kewirausahaan. Sebab, dewasa ini petani bukan hanya bercocok tanam, namun juga berbisnis.

“Salah satu upaya menggenjot produktivitas, menggenjot profit dan income yang melimpah, petani wajib melek dan paham akan literasi keuangan, yaitu KUR Pertanian salah satu contohnya,” ujar Dedi. 

Ditambahkannya yang menentukan keberhasilan pembangunan pertanian adalah petani, termasuk di dalamnya petani milenial. “Oleh karena itu, saya yakin kalau petani milenial Papua bangkit, pertanian Papua melejit. Petani milenial Papua hebat, pertanian Papua melesat,” tambah Dedi. 

Target peserta petani milenial di Papua yang tersentuh pelatihan Kementan sebanyak 2.000 petani milenial. Namun, kata dia, mengenai teknik pelatihan petani di Papua nampaknya harus dilakukan secara offline, sebab terkendala jaringan yang belum merata untuk dilakukan pelatihan online. SDM pertaniannya yang harus kita genjot, supaya bisa bersaing dengan petani di luar Papua, bahkan mancanegara,” demikian ujarnya.