JAKARTA,Mekraf.id– Di era industri digital 4.0, Kementerian Pertanian mendorong penyuluh pertanian agar dapat mempermudah dan mensinergikan interaksi hulu dan hilir dalam sistem agribisnis/agroindustri. Hal ini sejalan dengan upaya pembenahan sektor pertanian yang harus dilakukan pemerintah dan stakeholder terkait.

Utamanya, informasi dengan memanfaatkan komunikasi digital yaitu dengan mengemas pesan materi penyuluhan. Maka, penyuluh harus menguasai akses komunikasi digital dan mengembangkannya kepada petani secara verbal serta visual.

Penyuluh selain harus bisa menguasai teknologi, juga harus paham dengan sistem agribisnis yaitu apa yang dibutuhkan pasar dan hal ini menjadi titik tolak bagaimana mengembangkan materi penyuluhan untuk mendampingi petani.

Hal ini sesuai dengan harapan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bahwa inovasi teknologi revolusi industri 4.0 dapat menarik minat generasi muda. Khususnya untuk menumbuh kembangkan sektor pertanian dan dengan seiringnya berjalannya waktu lebih mencintai pertanian dan mau berusahatani di sektor pertanian.

“Tantangan petani dalam merespon pertanian 4.0 yaitu peralatan pertanian analog, keterampilan memanfaatkan media, infrastruktur telekomunikasi di pedesaan, keamanan data pertanian, manajemen big data dan integrasi data aplikasi pertanian,” katanya.

Tantangan tersebut akan menjadi peluang dengan menerapkan teknologi digitalisasi di sektor pertanian dan untuk mendukung pembangunan pertanian maju, mandiri, dan modern.

“Pertanian itu keren dan saat ini agenda utama pertanian era 4.0 adalah transformasi digital sektor pertanian serta pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital bidang pertania,” ujar Mentan SYL.

Hal yang sama disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras), Selasa (28/09/2021), di AOR BPPSDMP, mengatakan bahwa penyuluh pertanian harus memanfaatkan teknologi digital, teknologi modern internet dan memanfaatkan internet optik.

“Partisipatif itu berarti dua arah, bukan hanya penyuluh kepada petani tetapi juga dari petani ke penyuluh,” ujarnya.

Dedi juga menekankan kalau penyuluhan pertanian kita ingin menjadi dasar penyuluh di pedesaan, maka penyuluh pertanian wajib menggunakan digitalisasi penyuluh pertanian.

Sementara, Sri Puji Rahayu, Penyuluh Pertanian Pusat selaku narasumber acara Ngobras, menjelaskan jika pemilihan metode penyuluhan itu bertujuan untuk menetapkan suatu metode atau kombinasi beberapa metode yang tepat dalam penyuluhan pertanian.

Selain itu dapat meningkatkan efektivitas kegiatan penyuluhan pertanian agar kegiatan penyuluhan efektif dan efisien.

Sri Puji kembali mengingatkan bahwa hal-hal yang perlu diingat dalam penyuluhan partisipatif adalah metode penyuluhan harus menerapkan pendekatan partisipatif.

“Dan kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan juga harus berorientasi agribisnis didasarkan pada hasil kesepakatan petani dalam memenuhi kebutuhan pasar. Sedangkan petani sasaran adalah pelaku usaha yang benar-benar akan melaksanakan berorientasi agribisnis, pemberdayaan petani sebagai kunci keberhasilan pembangunan pertanian,” ujarnya.

Saat ini perkembangan media digital atau media sosial di masyarakat dapat meningkatkan layanan informasi untuk mempermudah kegiatan penyuluhan.

Dengan media digital memudahkan penyuluh dan petani untuk beriteraksi secara langsung dan bahkan bertatap muka melalui telepon maupun video call.

“Media digital dapat digunakan sebagai solusi dan alternatif yang murah, mudah dan mempercepat proses desiminasi teknologi selain sebagai sarana penyebaran informasi yang dapat menembus batas waktu tutup,” Sri Puji. (HVY/NF)