JAKARTA,Mekraf.id – Kementerian Pertanian kembali membuktikan jika pertanian adalah sektor yang keren dan menjanjikan. Terlebih, Kementan mengembangkan tanaman High Value Crop (HVC), yaitu komoditas bernilai ekonomis tinggi dan menguntungkan bagi petani selain tanaman padi, seperti cabai, bawang merah, kacang-kacangan dan lainnya.

Melalui Program Startegic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), komoditas HVC pada tahun ini telah dikembangkan.

Pilihan komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi dan jaminan keamanan lingkungan, perlu diperhatikan. Komoditas off season yang layak dikembangkan antara lain cabe dan bawang merah.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Di masa pandemi Covid-19, pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu survive. Bahkan tumbuh positif di saat sektor lain mengalami tekanan.

“Hal ini telah dilakukan Kementan dengan meningkatkan produktivitas pangan dan usaha tani, diantaranya melalui pengelolaan pertanian cerdas iklim dan pengaturan air yang saat ini sudah dilaksanakan melalui Program SIMURP,” katanya.

Oleh karena itu, Mentan SYL menilai pertanian ibarat emas seratus karat dan merpati putih yang tidak pernah ingkar janji, karena pertanian harus semakin maju dan harus semakin kuat.

“Bertani itu keren ditambah lagi dukungan program CSA SIMURP. Program SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menyambut baik Program SIMURP.

“Karena, selain untuk pengelolaan dan pengembangan irigasi partisipatif menuju modernisasi irigasi pada masa yang akan datang, juga adanya integrasi dalam kebijakan nasional dan kebijakan daerah sehingga dalam pelaksanaan di lapangan dapat terlaksana dengan baik terutama dalam mengatur pola tanam dan rencana pengelolaan sumber daya air sehingga tidak merugikan petani,” ungkapnya.

Dedi Nursyamsi juga menyerukan dengan semangat bahwa produksi pertanian harus meningkat dan menguntungkan.

Guna meningkatkan pendapatan petani dan produksi yang menguntungkan tersebut, BPP Pegatan di Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, telah mengembangkan HVC selain padi, yaitu cabai dan bawang prei.

Untuk menambah wawasan petani dan penyuluh maka telah dilakukan study banding HVC ke Kelompoktani Karya Baru di Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan pada 19 s.d 22 September 2021.

Menurut Koordinator BPP Pegatan, Mario, tujuan dilaksanakannya study banding tersebut selain menambah pengetahuan dan wawasan serta pemahaman teknis dan non teknis bagi petani. Utamanya, dalam mengelola usahatani komoditi bernilai ekonomi tinggi selain padi (cabai dan bawang prei) di lokasi SIMURP.

“Banyak manfaat yang didapat dari hasil studi banding ini, diantaranya bagaimana pemilihan buah cabai Hiyung dimulai dari pemilihan calon benih, budidaya, panen, pasca panen, cara pengemasannya hingga pemasarannya,” ujar Mario.

Sementara Slamet Wahyudi, petani perwakilan Kelompoktani Sekar Arum yang juga peserta study banding, akan mengajak petani lain untuk mengembangkan cabai Hiyung di galengan sawah 24 hektar milik angota kelompoktani sasaran SIMURP. Dia juga berharap semua peserta mempunyai rencana masing-masing yang saling mendukung. (SAH/NF)