JAKARTA,Mekraf.id– Pembangunan pertanian harus dapat memanfaatkan teknologi dan informasi secara efektif juga efisien. Hal ini juga dibutuhkan untuk mendorong percepatan penyiapan data dalam mendukung program dan kegiatan peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di seluruh wilayah Indonesia.

Termasuk juga menghadirkan inovasi seperti biopestisida untuk menghindari serangan hama.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian akan makin kuat apabila didukung riset dan inovasi yang berkelanjutan. Ia juga menegaskan, petani Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0.

“Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan SYL.

Dalam acara Mentan Sapa Penyuluh Pertanian (MSPP) Volume 34, Jum’at (24/09/2021), yang dilakukan secara virtual dari BPP Mandalawangi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, berharap penyuluh dan petani bisa membuat pestisida sendiri.

Dengan cara tersebut, petani dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas.

“Produktivitas kita pasti berdaya saing, maka kita dapat mampu mengekspor hasil tani Indonesia,” katanya.

Dedi menyampaikan, salah satu faktor produksi pertanian adalah pengendalian OPT. OPT bisa menghilangkan hasil antara 10 – 100% bahkan hingga tidak bisa panen atau gagal panen.

“Bila kita bisa mengendalikan OPT, artinya kita bisa menyelamatkan produktivitas antara 10 – 80% dan salah satu caranyanya bisa dengan menggunakan pestisida nabati,” ujar Dedi.

Dijelaskannya, dengan menggunakan biopestisida, petani akan mendapat keuntungan yang luar biasa. Keuntungan pertama adalah murah, karena bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar.

“Keuntungan yang kedua adalah tidak merusak lingkungan dan keuntungan yang ketiga yaitu efektifitasnya tidak kalah baik dari pestisida kimia,” kata Dedi lagi.

Dalam acara itu MSPP hadir sebagai Narasumber, Asep Kurnia Peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. Beliau menjelaskan bahwa pestisida sintetik telah digunakan selama lebih dari 60 tahun.

Generasi pertama yaitu golongan organoklorin dan generasi kedua adalah golongan organofosfat dan karbamat.

“Namun pestisida sintetik tersebut dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Sampai saat ini kandungan pesisida sintetik tersebut masih ditemukan di tanah karena penggunaan pestisida berlebihan telah menimbulkan residu tanah,” ujar Asep.

Asep menjelaskan tentang syarat dari insektisida nabati yaitu efektif dan efisien, aman terhadap lingkungan dan organisme berguna, tidak bersifat antagonis jika dicampur dan bahan bakunya mudah didapat.

Dan cara kerja insektisida nabati diantaranya adalah berupa racun syaraf, racun respirasi, penghambat fungsi hormon serangga, penghambat makan, pengusir, pemikat, pemandul. Teknik aplikasi pestisida nabati yaitu ada 6 T, yaitu tepat waktu, tepat cara, tepat dosis, tepat sasaran, tepat alat dan tepat jenis,” katanya.

Pertanian ramah lingkungan mutlak harus dilakukan. Salah satunya adalah bagaimaan menggunakan bio pestisida. Bio pestisida ini bisa mensubstitusi pestisida sintetik. Biopestisida hanya berpengaruh terhadap hama target tertentu, efektif dan jumlah kecil, bebas residu dan aman terhadap lingkungan.

“Selain itu, Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) didefinisikan sebagai penggunaan segala sumber daya untuk mengendalikan populasi hama dan penyakit dibawah ambang yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi serta meminimalisasi dampak terhadap lingkungan,” tutup Asep. (HVY/NF)