JAKARTA,Mekraf.id – Kementerian Pertanian (Kementan) tak pernah berhenti untuk mendorong semaksimal mungkin dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Salah satu upaya yang dilakukan diantaranya dengan melakukan optimasi lahan rawa. Saat ini terdapat 34,1 juta ha lahan rawa dan 20 juta ha potensial untuk pertanian. 10 juta ha yang siap dikelola menjadi lahan pertanian dan yang baru dikelola sawah seluas 1 juta ha dan lahan sawit seluas 1,5 juta ha. Sehingga luas potensi lahan rawa dimungkinkan untuk dikembangkan.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) menuturkan, dengan optimasi lahan rawa, maka produktivitas pertanian Indonesia terus ditingkatkan.

“Melalui program optimasi lahan ini, maka ada dua hal yang disasar, yaitu produktivitas dan kesejahteraan petani. Program ini memiliki dua manfaat bagi pertanian kita dan petani itu sendiri,” ujar Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Pengembangan dan Penyuluhan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 30 Jumat (27/08/2021) di AOR BPPSDMP mengatakan bahwa lahan rawa merupakan lahan yang spesial karena karateristiknya berbeda dengan lahan lainnya. Permasalahan utama lahan rawa yaitu genangan air dan tanah yang terlalu masam, dikarenakan lahan rawa karakteristiknya spesial dan konsentrasi besinya juga tinggi jika terdapat genangan air dalam lahan.

Dedi menekankan kembali, guna mengatasi permasalahan lahan rawa yaitu kemasaman ditanggulangi dan genangan jangan terlalu lama atau terlalu tinggi dan genjot produktivitas dengan pupuk hayati, khususnya lahan rawa. Selain itu dibutuhkan juga peran penyuluh pertanian guna mengimplementasikan informasi teknologi pertanian di lapangan bersama-sama dengan petani.

“Informasi teknologi pertanian apabila betul-betul di implementasikan akan meningkatkan produktivitas pertanian, dengan adanya pupuk hayati akan mengenjot produktivitas, tegas Dedi.

Sedangkan Narasumber MSPP, Mukhlis sebagai Peneliti Balai Penelitian Pertanian secara rinci menjelaskan fakta aktual lahan rawa yaitu tanah masam, keracunan besi dan aluminium. Faktor lainnya diantaranya drainase dan tata air tidak optimal, pemupukan kurang efektif dan efisien, dan dominan menggunakan pupuk anorganik sehingga produktivitasnya rendah.

Manfaat pupuk hayati lainnya yaitu memfasilitasi penyerapan hara memacu pertumbuhan tanaman/menekan cekaman biotik dan abiotik serta meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah. Dan iInovasi teknologi pupuk hayati di lahan rawa yaitu dengan menggunakan pupuk hayati biotara, biosure, marahati dan rhizwa”, terangnya. (HVY/NF)