Jakarta,Mekraf.id – Kementerian Pertanian meminta masyarakat mempunyai inovasi dalam pendayagunaan kacang hijau untuk pangan keluarga dan masyarakat. “Bagaimana tugas kita menumbuhkan semangat menanam kacang hijau supaya meningkat harga jualnya,” kata Amirudin Pohan sebagai Direktur Aneka Kacang dan Umbi pada acara webinar yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan (11/8).

Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor, mengunkapkan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sejak janin, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Sehingga penting untuk memperkenalkan beraneka ragam pangan sejak dini. Dalam memilih makanan harus beragam agar tidak ada bahan makanan yang mengandung semua nutrisi yang diperlukan tubuh.

“Makanan yang kita konsumsi harus bergizi, makanlah dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan yang terakhir harus aman karena yang kitan makan makanan  yang bebas dari kuman, bahan kimia dan benda berbahaya,” ujarnya.

Contohnya, kacang-kacangan banyak mengandung serat yang bermanfaat untuk kesehatan, meliputi melancarakan pencernaan dan mencegah kanker kolon, menurunkan kadar glukosa darah, berfungsi sebagai prebiotic, mengontrol kegemukan dan obesitas serta mengurangi kadar kolestrol dalam darah.
Seperti halnya kacang hijau memiliki kandunga protein 20-25%, daya cerna 77%, lemak 0,7-1 gr/kg, lemak tak jenuh  73%, lemak jenuh 27% dan karbohidrat 62-63%. Kandungan lemak kacang hijau adalah 1,3%, jauh lebih rendah dari pada kedelai (18%). Oleh sebab itu kacang hijau sangat baik bagi  orang yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi. Rendahnya lemak di dalam kacang hijau menyebabkan bahan makanan dan minumam yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah tengik.

Sementara itu menurut Rudi Iswanto, Peneliti Balitkabi Malang, dalam teknik budidaya kacang hijau diperlukan teknik agar dapat hasil produksi yang tinggi. Syarat yang harus dipenuhi antara lain : penyiapan lahan, varietas unggul dan benih bermutu, tanam, pemupukan, pengendalian gulma, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, serta teknologi Pasca Panen Benih. 

“Varietas unggul dan benih bermutu sangat dibutuhkan agar hasil yang diinginkan memuaskan,” sebutnya. Benih bermutu antara lain harus murni dan diketahui nama varietasnya,  daya tumbuh tinggi (minimal 80%, tergantung kelas benih) dan vigornya baik,  biji sehat, bernas dan tidak keriput, tidak terinfeksi organisme pengganggu tanaman (OPT), dan  tidak tercampur biji tanaman lain atau biji rerumputan.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyebut masih terbuka peluang produksi ditingkatkan dengan aplikasi teknologi budi daya kacang hijau yang baik, penggunaan varietas maka hasilnya akan lebih tinggi lagi.
Suwandi berpesan agar petani bermitra secara konsisten. Jangan spekulasi terhadap fluktuasi harga sehingga petani kehilangan pasar. “Bermitralah dengan mitra yang dapat menjamin kepastian pasar dan harga”, lanjut Suwandi.

“Saya yakin pasar akan terus bagus, karena permintaan sangat tinggi dan pasokan belum banyak. Potensi sangat besar bagi petani maupun pelaku usaha yang lain,” kata Suwandi.

Sebagai catatan informasi capaian  luas panen Tahun 2020 seluas  184,47 ribu ha dengan produksi 278,17 ribu ton, dan produktivitas 12,04 ku/ha, rata-rata meningkat 1,69%. Produktivitas meningkat memperlihatkan adanya peningkatan penggunaan teknologi budidaya kacang hijau.

Produktivitas kacang hijau masih bisa dikembangkan dengan meningkatkan teknologi budidaya, seperti penggunaan benih unggul bersertifikat. Dalam 8 tahun terakhir, pemenuhan kebutuhan kacang hijau masih belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang pengembangan kacang hijau.

Saat ini pertanaman kacang hijau masih terkonsentrasi di pulau Jawa, sehingga pengembangan kacang hijau di luar jawa masih terbuka untuk dilakukan.

Hingga saat ini ada 22 varietas kacang hijau yang telah banyak ditanam petani. Varietas kacang hijau yang telah berkembang seperti Murai, Betet, Kutilang, Perkutut, Vima 1, Vima 2, Vima 3, Vima 4 dan Vima 5.

Selama ini ada dua cara budidaya kacang hijau yang dilakukan petani. Budidaya tanam teratur menggunakan tugal, membutuhkan benih 25-40 kg/ha serta penggunaan herbisida. Serta budidaya tanam secara sebar meskipun benih yang diperlukan lebih banyak 40-60 kg/ha.

Hasil biji 1,5-2 ton, dengan biaya produksi yang bervariasi Rp 2-7 juta per ha akan diperoleh pendapatan bersih sekitar 12-17 juta dalam kurun waktu 2 bulan. Hal ini tentu sangat menarik minat petani untuk berusahatani kacang hijau.