JAKARTA – Kelestarian sistem pertanian berbasis 4.0 digaransi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI). Sebab, Kementan terus melakukan regenerasi dengan menggandakan kuantitas dan kualitas petani milenial. Kementan segera mengukuhkan 2.000 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA). Mereka diplot sebagai trigger di zonasi masing-masing. Jumlahnya digandakan menjadi 2,5 Juta petani milenial pada 5 tahun mendatang.

“Petani milenial menjadi kunci kelestarian pertanian Indonesia. Sebab, merekalah yang akan meneruskan dan semakin memajukan pertanian. Memberikan banyak inovasi seiring perkembangan teknologi. Memenangkan persaingan industri pertanian berbasis 4.0,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Menguatkan pilar pertanian maju, mandiri, dan modern dengan lifetime panjang, sebanyak 2.000 DPA dan DPM akan dikukuhkan pada Jumat (6/8). Treatmentnya secara offline di Ciawi, Jawa Barat, dan online. Hadir Presiden Joko Widodo dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Berikutnya, 2.000 DPA dan DPM menjalani Pelatihan Wirausaha Pertanian. Diberikan juga pendampingan mengakses KUR dan menjadi pengusaha start up hingga scale up pertanian.

“Petani-petani baru harus dilahirkan di daerah. Mereka tentunya dibekali dengan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang tinggi. Pelatihan-pelatihan dan pendampingan terus diberikan kepada mereka. Dengan begitu, pertanian semakin produktif dan berkualitas hingga membuat petani semakin sejahtera,” tegas SYL.

Hingga Mei 2021, jumlah petani di Indonesia mencapai 38 Juta orang. Hanya saja, sekitar 70% sudah berusia di atas 40 tahun. Untuk itu, sebanyak 2,5 Juta petani baru atau milenial harus dilahirkan dalam 5 tahun mendatang. Strategi tersebut dicapai dengan perekrutan minimal 200 petani baru per kabupaten. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menjelaskan, kuota petani milenial akan terpenuhi.

“Keberlanjutan kegiatan pertanian yang maju di Indonesia harus dijaga. Apalagi, performa pertanian sangat positif meski dihadapkan dengan situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Untuk itu, jumlah petani milenial harus ditambah. Target petani baru atau petani milenial sebanyak 2,5 Juta orang akan tercapai 5 tahun ke depan. Pertanian Indonesia berbasis 4.0 akan semakin kuat,” jelas Dedi.

Mematenkan status kelestarian pertanian, misi khususang dimiliki DPM dan DPA sejak dikukuhkan. Mereka harus menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda saat ini dalam pengbangan pertanain. Menguatkan kemitraan usaha pertanian melalui budidaya hortikultura, tanaman pangan, dan ternak. Mereka juga melakukan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan. Menjadi motor pengembangan jasa alat mesin pertanian dan agroeduwsata.

“Pertanian menjadi sektor produktif karena menawarkan bisnis dengan nilai yang sangat tinggi. Pertanian memberikan keuntungan dengan nilai besar. Untuk itu, melalui para DPM dan DPA, motivasi edukasi diberikan kepada anak muda Indonesia agar terjun dalam usaha pertanian dari hulu hingga hilir,” tegas Dedi lagi.

Mendorong lahirnya petani baru, saat ini 2.000 DPM dan DPA tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Slot besar bahkan dimiliki beberapa wilayah. Untuk Jawa Barat, ada 348 orang DPM dan 90 nama DPA yang siap menginspirasi sekaligus berkarya. Slot besar lain dimiliki Jawa Tengah dengan DPM 151 orang dan 56 nama DPA. Sulawesi Selatan memiliki kuota 95 DPM dan 11 DPA. Adapun penguatan perlu diberikan di Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, dan Sulaweai Barat.

“Seleksi ketat sudah diberikan kepada para DPM dan DPA. Faktor usia dan usaha pertanian yang diusahakan tetap dilihat. Artinya, mereka sudah mengusahakan usaha pertanian dan memiliki omset dengan dengan jumlah tertentu,” tutupnya.