Purbalingga, mekraf.id – Penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) dilakukan di Kabupaten Purbalingga. Hal tersebut dilakukan untuk mengukur Gas Rumah Kaca (GRK).

SIMURP sendiri merupakan program utama Kementerian Pertanian salah satu tujuannya adalah menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui Climate Smart Agricuture/Pertanian Cerdas Iklim.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, bahwa semua program-program utaman Kementan harus didukung sepenuhnya.

“Untuk mengatasi perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian,” ujar Mentan SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan CSA juga mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, mengurangi resiko gagal panen dan penurunan emisi GRK.

“Untuk itu, kita mengajak agar Pemerintah Daerah yang terlibat program SIMURP untuk mendukung CSA,” tuturnya.

Kabupaten Purbalingga melalui BPP Kemangkon dan BPP Bukateja turut mendukung program utama Kementan melalui kegiatan SIMURP, diantaranya dengan pengambilan sampel GRK. Bekerja sama dengan Balai Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati, pengambilan sampel GRK (CH4 dan N2) tahap pertama telah dilaksanaka pada areal persawahan Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, dan areal persawahan Desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, yang saat ini memasuki fase vegetative, Kamis (15/7/ 2021).

Kegiatan pengambilan sampel diikuti oleh petani pelaksana Demplot dan para penyuluh di wilayah binaan BPP Kemangkon dan BPP Bukateja (para agen CSA), tim teknis SIMURP Kabupaten Purbalingga dan dibimbing oleh Tim dari Balingtan Pati

Seno Bayumurti Penyuluh Pertanian selaku Tim Teknis SIMURP Kabupaten Purbalingga menjelaskan bahwa upaya mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan mengembangkan teknologi CSA melalui demplot padi sawah sistem Jajar Legowo.

Sistem ini menggunakan input yang ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk organik, benih varietas unggul baru, pestisida nabati, pengairan basah kering (PBK) dan pengendalian hama terpadu di lokasi demplot CSA.

Cara pengukuran yaitu sampel diambil pada 3 fase pertumbuhan padi yaitu fase vegetatif (30 – 35 HST), primordia (60 – 65 HST) dan pemasakan buah (90 HST) dengan menggunakan peralatan thermometer pengukur suhu, box penangkap GRK ukuran besar dan kecil, jarum suntik, ampul/ botol kaca menyimpan gas, alat tulis dan air

Hasil dari pengambilan sampel tersebut dikirim ke Balingtan Pati untuk dianalisis/dibaca di laboratorium dengan kromatografi gas (GC), hasil pembacaaan fluks GRK ditujukan untuk mendapatkan nilai konsentrasi Emisi GRK pada lahan demplot CSA dibandingkan dengan non CSA”, terang Seno Bayumurti.

Secara teori, Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas di troposfer yang mampu menyerap sinar infra merah yang kemudian dipantulkan oleh bumi sehingga bumi menjadi hangat. Suhu permukaan bumi saat ini dirasakan lebih panas dibanding jaman dulu.

Hal ini diakibatkan karena tingginya aktivitas manusia, termasuk kegiatan pertanian yang kurang ramah lingkungan sehingga menyebabkan jumlah GRK meningkat drastis. Inilah yang akan menaikkan suhu bumi, sehingga harus dikendalikan. (SB/SWR/NF)