KALIMANTAN TENGAH, Mekraf.I.d– Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, memanfaatkan program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) dari Kementerian Pertanian untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Caranya, dengan mengembangkan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim melalui demplot padi sawah sistem Jajar Legowo.

Sistem ini menggunakan input yang ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk organik, benih unggul, pestisida nabati, pengolahan lahan macak-macak dan penggunaan irigasi terputus (intermittent).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, Pertanian Cerdas Iklim memiliki dampak positif untuk pertanian. Dan proyek SIMURP ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian yang difokuskan pada tiga tujuan pembangunan pertanian.

“Tepatnya, penyediaan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan ekspor,” ujar Mentan SYL.

Mentan Syahrul pun menegaskan kepada seluruh jajarannya, untuk mensukseskan program-program utama Kementerian Pertanian, termasuk SIMURP.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengajak petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan memanfaatkan CSA.

“Karena CSA SIMURP dapat meningkatkan produksi tanaman dan juga pendapatan petani, khususnya pada lahan sawah beririgasi. SIMURP juga mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman,” ujar Dedi Nursyamsi.

Menurutnya, kegiatan CSA mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim dan mengurangi risiko gagal panen.

Di Kalimantan Tengah, salah satu lokasi SIMURP adalah BPP Pegatan, Kabupaten Katingan. Rabu (15/7/2021), BPP Pegatan telah melakukan pengambilan sampel GRK tahap 3 di areal pertanaman padi yang budidayanya dengan pendekatan CSA. Pengambilan sampel dilakukan guna menduga emisi GRK dari lahan pertanian dan pertanaman padi.

Mario, Penyuluh Pertanian selaku penanggung jawab BPP Pegatan, menyampaikan masih tingginya produksi emisi GRK pada sektor pertanian.

“Untuk itu, dibutuhkan monitoring dan pengawasan secara berkala, sehingga dapat dipantau dan ditekan kuantitasnya,” tuturnya.

Mario menambahkan, pemanfaatan alat GRK secara optimal, bukan tidak mungkin akan mempercepat pengurangan emisi GRK.

“Muaranya ada pada peningkatan peran sektor pertanian untuk terus mendengungkan upaya mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global,” terangnya. (NGY/NF)