Banten, Mekraf.id – Untuk meningkatkan harga jual produk pertanian, diperlukan nilai tambah dari suatu komoditas. Baik melalui cara pengolahannya, pengangkutan, penyimpanan, hingga pemasaran suatu produk. Hal ini juga yang menjadi perhatian Kementerian Pertanian.

Peningkatan nilai tambah akan berdampak bagi peningkatan nilai jual petani, baik yang menghasilkan produk mentah apalagi produk olahan. Sumber pangan lokal selain beras tersebar di seluruh indonesia dengan kandungan gizi yang bersaing dengan beras. Contoh talas, singkong, jagung, sukun, pisang, labu kuning, labu madu dan lain-lain.

Menteri Pertanian (Mentan),Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan kekayaan budaya kuliner lokal harus terus diangkat. Hal ini sebagai wujud kebanggaan terhadap Tanah Air sekaligus untuk menolong para petani lokal agar dapat memperbaiki kesejahteraan petani.

“Pangan kita tidak untuk kebutuhan makan namun kita akan terus intervensi ketempat tempat lebih kuat. Saya bermimpi mengadakan kegiatan one day with Indonesian food, with Indonesian Coffee. Ini tentu perlu kerjasama kita semua,” tutur Mentan SYL.

Lebih lanjut SYL mengatakan, Kementan terus mendorong pangan lokal petani, meningkatkan kualitas produk supaya bisa diterima di semua kalangan lapisan masyarakat. Juga meningkatkan teknologi pangan lokal untuk stamina tubuh dan perluas jaringan pangan lokal sampai ke mancanegara.

Dalam Ngobrol Asyik (Ngobras) On The Spot volume 14, dilaksanakan di Saung Teh Yoyoh, di Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (29/6/2021), tema olahan pangan lokal jadi nilai tambah tingkatkan kesejahteraan petani, Kepala Badan Pusat Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi sangat mendukung kegiatan yang dilakukan penyuluh pertanian Yoyoh Rachmatunnisa.

Yoyoh Rachmatunnisa mempelopori Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Kecamatan Cipeucang. Diantaranya KWT Mawar, Sedap Malam, Sehati, dan Mitra Srikandi.

“Penyuluh dimanapun berada harus bisa membidik dan meningkatkan produktivitas pertanian” ujar Dedi.

Dedi mengatakan peran penyuluh untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian diantaranya menghubungkan petani dengan pelaku usaha, menghubungkan petani dengan sumber informasi dan teknologi, mendorong petani dalam pengolahan atau kegiatan pasca panen dan pemasaran hasil pertanian yang diarahkan untuk mewujudkan tumbuhnya usaha yang dapat meningkatkan nilai tambah dan harga yang wajar di tingkat petani.

Sementara Yoyoh selaku narasumber menjelaskan, UMKM Bumi Pangan Lokal (Bumi Panglok) bergerak di bidang olahan pangan lokal berbahan dasar umbi lokal dari kabupaten Pandeglang dan sekitarnya.

Produk olahan yang dihasilkan yaitu Beras Beneng (Beras Arben) Makaroni Beneng, Mie Beneng, Brownies Talas Beneng, Aneka Kue Basah atau Cake dari Singkong, Labu Madu, labu Kuning, pisang, Ubi Ungu, Sukun, Ganyong, Klanting Ubi Ungu, Krupuk Kulit Singkong, Aneka Cookies dan Aneka Olahan Lainnya.

“UMKM ini selain memproduksi produk-produk hasil pertanian, juga merupakan wadah atau tempat pelatihan bagi para KWT yang ingin belajar pengolahan hasil pertanian,” tutup Yoyoh. (HVY)