JAKARTA, Mekraf.id– Green house, atau rumah kaca (glass house), adalah sebuah teknologi pertanian yang cukup mengalami perkembangan yang pesat. Bertani dalam green house sudah banyak diadopsi para petani, terutama agribisnis sayuran dan tanaman hias.

Menurut pengertiannya, green house merupakan sebuah bangunan yang dirancang untuk melindungi tanaman dari segala bentuk cuaca yang berlebihan.

Untuk itu, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), mendorong penerapan Smart Green House (SGH) di seluruh Indonesia.

Menurut Mentan SYL, SGH merupakan cermin dari implementasi pertanian modern dengan mengedepankan basis teknologi artificial intelegen.

“Smart Green House didesain untuk menghasilkan SDM unggul dan berkualitas. Dengan SDM yang berkualitas berkualitas akan mendukung prioritas kebijakan pembangunan pertanian berbasis food security atau ketahanan pangan,” ujar Mentan SYL.

Menurutnya, Kementerian Pertanian memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menyiapkan pangan bagi 270 juta rakyat Indonesia.

Sektor pertanian hanya bisa diintervensi oleh hadirnya kemajuan dan perkembangan teknologi modern. Pertanian tidak bisa diolah lagi dengan cara tradisional yang memakan biaya, waktu, tenaga dan juga pikiran.

“Kita harus ingat bahwa pertanian kita hari ini, kemarin dan masa depan adalah penopang ekonomi bangsa,” katanya.

Mengingat kemajuan yang semakin pesat, Mentan SYL menilai sektor pertanian perlu didukung SDM yang mampu mengelola usaha pertanian berbasis teknologi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, saat Ngobrol Asyik Penyuluhan Pertanian (Ngobras) Volume 13 yang dilakukan secara virtual, Selasa (22/6/2021), mengatakan bahwa bahwa green house effect menyebabkan daerah di ruangan konsentrasi CO2 lebih tinggi dari pada atmosfir.

Semakin meningkat CO2 maka semakin besar karbohidrat dan semakin banyak fotosintat serta pangan yang terbentuk.

“Dengan green house maka unsur hara bisa dikendalikan dengan mudah serta terlindung dari hama dan penyakit. Selain itu tujuan dibangunnya Smart Green House ini dalam rangka membangun pertanian modern berbasis teknologi,” ujar Dedi.

Hadir sebagai Narasumber Ngobras, Ambrosius Keko, S.P. Penyuluh Pertanian Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia menjelaskan tentang keberhasilan green house yang telah dibangun olehnya.

“Mari kita kembangkan teknologi pertanian modern pada daerah yang masih menggunakan teknologi pertanian konvensional dan tradisional guna menjaga ketahanan pangan, meningkatkan ekonomi serta mencegah stunting,” ujarnya.

Ambrosius juga mengajak petani serta penyuluh pertanian di seluruh Indonesia agar dapat memanfaatkan lahan sempit yang ada di sekitarnya untuk dapat dijadikan green house yang dapat menghasilkan produktivitas tinggi. (DEA/NF)