PURBALINGGA, Mekraf.id – Sebagai salah satu wilayah yang mendapatkan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah siap mendukung program utama Kementerian Pertanian. Kegiatan yang dilaksanakan di tahun 2021 difokuskan untuk kelompok tani utama, didukung dengan kelompok tani satelit (kelompok tani di luar kelompok SIMURP) mengembangkan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan kepada seluruh jajarannya, harus mensukseskan program-program utama Kementan tanpa terkecuali Proyek SIMURP.

“Program-program utama Kementan lainnya seperti peningkatan pemberdayaan petani dan penyuluh harus didukung. Semuanya merupakan kunci keberhasilan pembangunan pertanian dan pembangunan pertanian dimulai dari penyuluhnya kemudian petaninya”, ujar Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menegaskan kembali bahwa CSA merupakan kunci andalan SIMURP sehingga harus betul-betul dipahami oleh seluruh pelaksana SIMURP Pusat dan daerah.

Dedi juga mengingatkan jika SIMURP merupakan program antar lintas Kementerian/Lembaga, dimana ada 4 KL yang ikut mengawalnya. “Semuanya harus saling bahu membahu dan support serta bekerjasama dengan baik antara Pusat dan daerah”, tegas Dedi.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bukateja sebagai bagian dari Kostratani telah melaksanakan berbagai kegiatan yang utamanya adalah mendorong dan mendampingi petani di Daerah Irigasi (DI) BTW (Bandjar Tjahjana Werken) untuk menerapkan CSA.

Kepala BPP Kecamatan Bukateja Elly Buadiarto, menjelaskan bahwa pendekatan cara bertani CSA merupakan bagian dari kegiatan SIMURP. “Pada pendekatan CSA teknologi yang digunakan diterapkan sebelum, saat dan setelah tanam. Teknologi tersebut antara lain diantaranya adalah penggunaan benih unggul dan bersertifikat, perlakuan seleksi benih, penggunaan bibit muda, penanaman sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1”, terang Elly.

Selain itu, Elly menambahkan bahwa pemupukan berimbang yang meliputi pemupukan dasar dan pemupukan susulan, sistem irigasi intermitten dengan penggunaan alat kontrol AWD (alternate wetting and drying), pengendalian OPT ramah lingkungan dan pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK).

“Kegiatan pemupukan dasar pra tanam dilakukan dengan pemberian pupuk organik. Pupuk organik padat tersebut merupakan pupuk yang dibuat sendiri oleh para petani anggota kelompok tani dengan pendampingan dari para penyuluh pertanian. Diantara Poktan-poktan di wilayah binaan BPP Bukateja yang sudah mempraktekan pembuatan pupuk organik adalah Poktan Sarwo Sembodo Desa Karanggedang Kecamatan Bukateja dan Poktan Santosa Desa Tidu Kecamatan Bukateja. “, tambahnya.

Sementara Nurohman selaku PPL di wilayah binaan Desa Tidu, mengatakan bahwa pembuatan pupuk organik padat menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan disekitar lokasi kegiatan yaitu gergajian, sekam, bekatul, Kotoran Hewan (Kohe), kapur dolomit, trikoderma dan EM4.

“Bahan bahan tersebut dicampur, kemudian difermentasi. Ciri ciri sedang terjadi proses fermentasi adalah suhunya meningkat. Setelah suhu turun menjadi normal pupuk siap digunakan”, ujar Nurohman.

Ditambahkan pula oleh Maolana petani anggota Poktan Setosa Desa Tidu Kecamatan Bukateja, yang ditemui dilokasi kegiatan pembuatan pupuk organik padat mengungkapkan perasaan senangnya dengan kegiatan Demplot CSA di kelompok taninya.

Menurutnya dengan terbiasa menggunakan pupuk organik, petani menjadi tidak hanya tergantung dengan pupuk kimia yang sering sulit didapatkan, Kegiatan-kegiatan yang diajarkan para penyuluh seperti Jajar Legowo, pupuk organik dan pengairan macak macak sangat berguna buat kami kaum tani”, tutur Maolana. (SN/SWR/NF)