KATINGAN, Mekraf.id – Salah satu tujuan utama dari Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation atau SIMURP adalah mengurangi efek Gas Rumah Kaca (GRK). Dan fokus kegiatan SIMURP adalah Climate Smart Agriculture/CSA atau Pertanian Cerdas Iklim. Untuk itu melalui program SIMURP, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mendorong petani sebagai pelaku utama agar mengimplementasi CSA untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

Dijelaskan oleh Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi bahwa kegiatan CSA sendiri selain bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, juga untuk mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, mengurangi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) serta meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi Proyek SIMURP.

Menurutnya CSA merupakan kunci andalan SIMURP sehingga harus betul-betul dipahami oleh seluruh pelaksana SIMURP Pusat dan daerah. Tujuan utama dari SIMURP adalah meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani hal ini sejalan dengan program utama Kementan. Selain itu Dedi juga mengajak kepada Pemerintah Daerah yang terlibat agar mendukung CSA. “Implementasi CSA juga wajib diterapkan oleh seluruh pengelola SIMURP baik di Pusat maupun di daerah”, ujar Dedi Nursyamsi.

Salah satu wilayah menggerakan program ini adalah Kabupaten Katingan yang termasuk lokasi SIMURP. Petani di Katingan melakukan pengambilan sampel GRK. Dilakukan di lahan milik Darmanjianto, kelompok tani Budi Luhur yang terletak di Desa Jaya Makmur, Rei 3 kanan, Kecamatan Katingan Kuala, pengambilan sampel di damping oleh Yono Petugas dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) Pati dan Aman Nurrahman Kahfi selaku Widyaisawara Pendamping dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang.

Pengambilan sampel GRK ini dilakukan untuk menduga emisi GRK dari lahan pertanian dan pertanaman padi. Pengambilan sampel GRK dilakukan di areal pertanaman padi yang budidayanya dengan pendekatan CSA dengan lahan pertanaman padi yang dibudidayakan secara konvensional.

“Hal ini untuk membandingkan konsentrasi GRK dari dua lahan dengan perlakuan yang berbeda, terutama diharapkan pada pertanaman dengan perlakuan sesuai prinsip CSA dapat menurunkan konsentrasi GRK, ujar Kahfi.

Lebih lanjut dijelaskan Kahfi, pengambilan sampel dilakukan pada lahan pertanaman dengan pendekatan CSA dan lahan pertanaman secara konvensional masing-masing di 3 titik yang berbeda. Semua petani bergilir terlibat untuk mengalami secara langsung cara dan tahapan pengambilan sampel. Pemberian kesempatan pengambilan sampel secara langsung oleh petani ini diharapkan agar petani mengalami sendiri dan meningkatkan kepercayaan petani bahwa budidaya pertanian padi pun mempunyai kontribusi terhadap emisi GRK di atmosfer.

“Dalam jangka menengah, setelah musim tanam selesai dan rilis hasil pendugaan GRK dari lahan sudah dipublikasikan dapat menyadarkan petani untuk mengadopsi teknologi-teknologi yang berprinsip CSA. Sehingga petani di Kahayan Kuala dapat menekan kontribusi emisi GRK dari lahan pertanian”, papar Kahfi.

Perakitan dan tata cara pengambilan sampel GRK dibimbing oleh Yono, petugas dari Balingtan Pati. Seluruh petani antuasias mengikuti jalannya kegiatan, sesekali melayangkan pertanyaan singkat. Praktik pengambilan sampel GRK dilakukan di lahan pertanaman padi yang berada di samping kantor BPP Pegatan, Kecamatan Katingan Kuala.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian mengatakan bahwa dampak perubahan iklim sudah sangat dirasakan pada setiap aspek kehidupan manusia, salah satunya sektor pertanian.

“Untuk mengatasi perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian terutama dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian”, ujar Mentan SYL.

Hadir pada pengambilan sampel tahap pertama ini diantaranya, perwakilan dari Dinas Tanaman Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Katingan serta seluruh petani penerima program CSA. (ANK/NF)