JAKARTA, Mekraf.id – Pertanian modern dicirikan dengan menggunakan varietas yang dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi dan kualitas tinggi. Selain pemanfaatan varietas yang baik, pertanian yang modern juga memanfaatkan alsintan. Dengan memanfaatkan varietas dan alsintan yang terbaik, maka akan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) terus berusaha untuk meningkatkan sumber daya manusia di bidang pertanian. Dibanding negara-negara lain, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik.

“Kondisi geografis Indonesia sangat menguntungkan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara sejahtera lewat pengembangan pertanian. Selain itu, pertanian Indonesia sangat terbuka bagi generasi millenial yang didukung oleh alam dengan tanah subur, masyarakat yang membutuhkan makan, tetapi kekurangan SDM yang dapat mengelola sektor pertanian”, ungkap Mentan SYL.

Secara terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi dalam Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 17 Jumat (28/05/21) melalui virtual dari BPP Puuwatu, Kendari menyampaikan saat ini sedang transformasi peralihan dari pertanian tradisional ke pertanian modern.

“Pertanian tradisional dicirikan dengan produktivitas yang rendah sedangkan pertanian modern dicirikan dengan produktivitas yang tinggi. Siap tidak siap, kita harus bisa bertransformasi dari pertanian tradisional ke pertanian modern”, ujar Dedi.

Sementara Indrastuti Apri Rumanti, Peneliti pada BBP Padi Sukamandi selaku narasumber mengungkapkan bahwa tantangan produksi padi saat ini adalah adanya peningkatan populasi penduduk, kesuburan tanah turun, ketersediaan air terbatas serta berkurangnya tenaga kerja.

Hal tersebut diperparah dengan adanya perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap produksi padi yaitu dengan adanya peningkatan temperatur, mengakibatkan heat stress dan peningkatan permukaan air laut (salin).

“Dengan adanya frekuensi iklim ekstrim yang meningkat akan mengakibatkan kekeringan, banjir, ledakan populasi hama dan kejadian penyakit yang parah”, ungkap Indrastuti.

Selain itu ditambahkan Indrastuti, antisipasi perubahan iklim yang terjadi melalui pemuliaan padi yaitu dengan adaptasi dan mitigasi. Adaptasi dengan meningkatkan potensi hasil dengan menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) sebagai komponen utama dan murah serta peningkatan efisiensi penggunaan air dan nutrisi oleh tanaman.

Varietas unggul yang berpotensi memberikan hasil tinggi yaitu hibrida, inbrida dan umur sangat genjah. Varietas unggul padi hibrida saat ini yaitu Hipa 20 dan Hipa 21. Arietas inbrida dengan potensi hasil tinggi dan tahan OPT yaitu ada Inpari 42 GSR Agritan, Inpari 32 Agritan, Mantap, Inpari 45 Dirgahayu, Inpari 47 WBC, Inpari 48 Blas.

”Ekosistem padi yang dapat menghasilkan produksi tinggi yaitu padi sawah, padi gogo dan padi rawa. Namun saat ini yang lebih dominan yaitu padi sawah dengan menggunakan sawah irigasi dan sawah tadah hujan”, tutup Indrastuti. (HVY/NF)