Sebanyak 15 orang regu tanam, melaksanakan tanam padi perdana dengan dukungan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim, di lahan demplot seluas 1 hektar, milik kelompok tani Sida Dadi, desa Tapen, Kecamatan Wanadadi, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Berbagai jenis teknologi CSA yang diterapkan sebelum, saat dan setelah tanam. Jenis yang digunakan diantaranya dengan penggunaan benih unggul dan bersertifikat, perlakuan seleksi benih, penggunaan bibit muda serta penanaman dengan sistem jajar legowo 2:1 dan 4:1.

Pemupukan berimbang yang meliputi pemupukan dasar dan pemupukan susulan, sistem irigasi intermitten dengan penggunaan alat kontrol Alternate Wetting And Drying (AWD), Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ramah lingkungan dan pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) juga merupakan bagian dari CSA.

“Kami, penyuluh pendamping, bersama-sama dengan petani, akan berusaha menerapkan teknologi CSA, seoptimal mungkin, agar bisa meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani”, ujar Siti Muzamil, selaku penyuluh pertanian pendamping setempat.

“Istilah teknologi CSA ini memang merupakan hal baru bagi petani di wilayah Wanadadi, tetapi beberapa komponennya sudah biasa diterapkan oleh petani di sini, sehingga harapannya petani akan mudah menerapkan dan mencapai tujuan yang diharapkan pemerintah, yaitu meningkatkan produksi, meningkatkan IP, menerapkan pertanian ramah lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca”, imbuh Sulasih, SP, Koordinator Petugas Pertanian kecamatan Wanadadi.

Komponen teknologi CSA, terutama anjuran untuk lebih banyak menggunakan bahan organik dan bahan alami, diharapkan dapat mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan, yang akan bermanfaat bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup manusia dan kelestarian alam.

Sukhudin, salah satu petani pemilik lahan demplot mengungkapkan kebahagiaannya. “Alhamdulillah, saya merasa senang sekali, mendapatkan kegiatan demplot pertanian ini, yang didukung dengan saprodi yang lengkap serta pembinaan rutin dari BPP dan semoga hasil panennya meningkat dan bisa mencontohi petani lain, harapnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan SDM pertanian harus ditingkatkan jika ingin produktivitas meningkat.

“Petani harus terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitasnya. karena, ilmu pengetahuan terus berkembang,” tegas Mentan SYL.

Di tempat terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa CSA merupakan kunci andalan SIMURP dan Implementasi CSA juga wajib diterapkan oleh seluruh pengelola SIMURP baik di Pusat maupun di daerah.

Program SIMURP memiliki banyak kegiatan yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah perilaku petani yang salah satu kegiatannya adalah SL. Selain itu, faktor pengungkit utama dalam peningkatan produktivitas pertanian adalah SDM, baik itu petani, penyuluh, petani milenial, kelompok tani, maupun gapoktan.

“Kegiatan SL SIMURP akan memberikan banyak pengetahuan baru untuk petani. Pengetahuan itu harus bisa diserap dan diimplementasikan ke lahan masing-masing,” tutup Dedi. (HRT/SWR/NF)