JAKARTA, Mekraf.id – Indonesia sudah memasuki era 4.0. Era dimana teknologi digital sudah diterapkan diberbagai sektor, termasuk pertanian. Oleh karena itu, semua SDM pertanian yang terlibat diharapkan bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan semangat petani agar bisa meningkatkan produktivitas pertanian, salah satunya Penyuluh Pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), meminta generasi milenial pertanian agar memanfaatkan paradigma baru dunia digital dalam mengembangkan pertanian. Karena, pertanian tak lagi sama dengan masa lalu. Di era digital seperti sekarang sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan.

“Penyuluh pertanian saat ini juga dituntut untuk memanfaatkan inovasi teknologi yang sudah berkembang dengan baik. Di situlah peran serta generasi milenial,” ujar Mentan SYL.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, saat Acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 16, Jumat (21/05/2021), yang dilakukan secara virtual di AWR (Agriculture War Room) Kementerian Pertanian.

Dedi mengatakan Penyuluh pertanian harus bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan semangat petani agar bisa meningkatkan produktifitas pertanian. Penyuluh harus memanfaatkan inovasi teknologi yang sudah berkembang dengan baik.

“Informasi yang ada kini dapat tersampaikan dengan bantuan teknologi digital yang berkembang dengan cepat, informasi yang dulu didapatkan melalui tatap muka dan secara manual kini dapat disebarluaskan melalui teknologi. Ciri penyuluh yang berhasil adalah penyuluh yang bisa meningkatkan produktivitas di wilayah binaannya masing-masing dengan memanfaatkan inovasi budidaya,” ujar Dedi.

Acara ini juga menghadirkan narasumber Rizali Anshar, Penyuluh Pertanian dari Provinsi Kalimantan Selatan. Rizali adalah penyuluh milenial yang telah memanfaatkan teknologi digital media penyuluhan melalui video.

Berbagai tips dibagikan Rizali di acara ini, diantaranya bagaimana membuat video penyuluhan agar dapat diterima dan dimengerti oleh petani dan stakeholder bidang pertanian.

“Salah satunya untuk pemilihan materi dalam video berdasarkan kejadian yang viral atau sedang hangat dibicarakan,” ujar Rizali.

Selain itu, jenis video yang dipilih harus konsisten, jika dari awal memilih video mengenai tanaman hias maka seharusnya video yang dibuat selalu mengenai tanaman hias.

Kualitas suara dan bahasa tubuh juga mempengaruhi kualitas video. Dengan suara yang bersemangat maka akan membuat orang yang menonton lebih semangat. Namun walaupun sudah menggunakan suara yang bagus, tetap harus menggunakan bahasa tubuh yang baik juga.

“Selain itu ada teknik khusus dalam membuat video dalam youtube agar video yang dibuat ditonton oleh masyarakat, dalam hal ini khususnya petani. Yaitu, ada yang namanya algoritma youtube yang dapat menyebabkan viewers lebih banyak,” tutup Rizali. (HVY/NF)