PENYULUH MERAUKE BUKTIKAN UBINAN MAMPU TINGKATKAN PROVITAS

MERAUKE, Mekraf.id – Kampung Bokem Distrik Merauke merupakan salah satu Kampung pemasok padi dan cukup memberikan konstribusi bagi Kabupaten Merauke sebagai penghasil padi terbesar di Provinsi Papua. Dengan luas lahan sebesar 300 Ha Kampung Bokem sudah menerapkan IP 200 khususnya musim rendengan hingga 266 Ha dan musim gadu 75 Ha. Produktivitas yang dihasilkan berkisar 4,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Hal ini dibuktikan langsung oleh Penyuluh Pertanian yang membina Gapoktan di wilayah tersebut.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyuluh diharapkan mendampingi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengembangkan usahatani, mulai dari hulu sampai hilir.

“Peran penyuluh sangat penting untuk pertanian. Sebab, penyuluh merupakan garda terdepan pembangunan pertanian nasional,” ujar Mentan SYL.

Menurut Mentan SYL, penyuluh adalah sosok yang harus terus mendampingi dan mengawal petani di lapangan.

“Oleh karena itu, penyuluh harus diberikan perhatian, baik nasib maupun kesejahteraanya. Hal ini yang bisa membuat mereka maksimal dalam mengawal kedaulatan pangan nasional.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

Menurutnya, peran penyuluh sangat penting dalam mendampingi petani dalam menjaga stabilitas produksi pangan.
Penyuluh harus hadir dalam mendampingi petani dan memberikan solusi yang dihadapi oleh petani di lapangan,” ujar Dedi.

Novianti R. Manik selaku penyuluh pendamping Kampung Bogem mengungkapkan banyak permasalahan teknis di Kampung Bokem, diantaranya apabila musim rendengan biasanya lahan terkendala terendam, keasaman tanah atau pH di bawah lima dan tata kelola air belum maksimal.

“Namun, permasalahan bukanlah kendala yang harus dihindari melainkan justru memicu motivasi putra daerah untuk secara swadaya membuka lahan sawah seluas 25 hektar, meskipun produktifitas masih rendah, baru 2,5 ton GKP per hektar mengingat pH tanah di bawah lima dan tata kelola air belum memadai”, ujarnya.

Bahkan, Penyuluh dan Ketua Kelompok Tani serta Anggota Kelompok Tani Sukata Gapoktan Bokem Distrik Merauke sudah melakukan Ubinan Padi Varietas Ciherang dan memperoleh hasil yang dikonversi sebanyak 8,4 ton/ha, yang mana pada tahun lalu di kelompok tani ini hanya sekitar 7,5 ton/ha.

Lebih lanjut Novinati menuturkan, hasil ubinan yang dilakukan di Kelompok Tani Lepro Makmur, Kelompok Tani Sukata, dan Kelompok Tani Tunas Baru dari Gapoktan Bokem Kelurahan/Kampung Bokem Distrik Merauke menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. “Rata-rata hasil Produksi dari Varietas Ciherang bisa mencapai 8.4 ton/ha; Varietas Unsoed 01 mencapai 4.5 ton/ha; Varietas Inpari 42 yang ditanam secara organik mencapai 4.4 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP)”, Papar Novianti.

Dan ditambahkannya, keberhasilan Gapoktan Bokem dikarenakan percepatan waktu tanam yang dilakukan oleh Gapoktan Bokem yaitu tanam dilakukan pada Bulan Desember sampai Awal Bulan Februari, karena pada saat tanam pada bulan-bulan ini cukup tersedia air. Bagi masyarakat yang tanam akhir Februari dan Bulan Maret umumnya tanaman terserang wereng.

“Selain itu motivasi Kami untuk melakukan percepatan tanam lebih awal ternyata terbukti dari hasil ubinan yang dilakukan di tiga Kelompoktani Gapoktan Bokem Distrik Merauke yang baru-baru ini dilakukan dan hal ini sangat memepengaruhi petani karena hasil ubinannya sangat memuaskan”, tutupnya. (SN/NF)