JAKARTA, Mekraf.id – Melalui program Food Estate, Kementerian Pertanian berusaha menjamin ketersediaan pangan bagi 270 juta jiwa rakyat Indonesia. Pengembangan kawasan ini dilakukan di wilayah yang memiliki keunggulan komparatif, seperti lahan yang luas, tersedianya sumber daya air dan iklim, adanya dukungan kondisi infrastruktur, kondisi eksisting bisnis, dan sosial budaya masyarakat.

Salah satu pengembangan Food Estate dilakukan di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, tujuan Kementan bersama pihak terkait dalam mengembangkan Food Estate adalah untuk membuat masyarakat menjadi lebih baik dan semakin sejahtera.

Menurutnya, pemerintah bersama petani akan menjamin harga, sehingga ada kepastian, termasuk ketika panen tidak jatuh.

“Pemerintah akan kawal pengembangan Food Estate hingga dua tahun. Apabila program ini berhasil, maka akan dilakukan pembangunan di daerah lain,” kata Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan program Foos Estate akan didukung oleh penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

“Di lokasi Food Estate Humbang Hasundutan, penyuluh BPP Pollung sebagai Kostratani menjadi garda terdepan siap mendukung petani mendirikan korporasi petani,” ujarnya.

Selain itu, terang Dedi Nursyamsi, ada Pengawalan dan pendampingan khusus oleh TIM DETASER (Dosen, Peneliti, Tim Ditjen Horti).  

Pengembangan kawasan Food Estate hortikultura di Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2020 sampai tahun 2023 dan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2020 dikembangkan kawasan Food Estate seluas ± 1.000 ha, pada Desember 2020 terealisasi 215 ha terdiri dari 15 ha demfarm Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 200 ha APBN Direktorat Jenderal Hortikultura.

“Tahun 2021, untuk lahan 785 ha telah dilakukan sosialisasi dan persiapan tracking untuk menentukan lokasi dan luas lahan petani di kawasan FE Humbang Hasundutan,” kata Dedi Nursyamsi.

Kegiatan tracking akan melibatkan para penyuluh BPP Pollung dan mahasiswa Polbangtan Medan yang saat ini melakukan program Kuliah Merdeka di lokasi FE Humbang Hasundutan. 

Di lokasi ini, panen bawang merah dan bawang putih sudah selesai dilakukan dan saat ini panen komoditas kentang sudah hampir 95% persen di lokasi yang 215 ha.

Untuk MT II, petani menggunakan modalnya dari hasil penjualan komoditas hortikultura yang diusahakan pada musim tanam I, tidak ada anggaran dari pemerintah pusat/APBN musim tanam II ini. Diharapkan petani sudah dapat lebih mandiri lagi terutama dalam pembiayaan di MT II.

Peran penyuluh dalam program FE Humbang Hasundutan, melakukan pembinaan dan pendampingan pada 7 kelompoktani, yaitu Poktan Sehati, Maju, Ria kerja, Ria Bersinar, Ganda Marsada, Sinar Jaya dan Karejo, Gapoktan dan kelembagaan ekonomi yang ada saat ini. Pengawalan dan Pendampingan pada KUB dan melakukan komunikasi dengan offtaker terkait pemasaran produk usahatani hortikultura petani.

Penyuluh pertanian yang berada di BPP Pollung berjumlah 15 orang, terdiri dari 3 orang (1 orang PNS dan 2 orang THLTB) termasuk koordinator penyuluh BPP dan 12 orang Penyuluh Pertanian Swadaya. Penyuluh pertanian memiliki wilayah kerja (WKPP) masing-masing.

“Tugas Penyuluh pertanian melakukan pertemuan rutin kelompok untuk penguatan kelembagaan poktan dan gapoktan, menyusun rencana kerja yang  diimplementasikan di lapangan, serta memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi petani dalam budidaya dan pemasaran hasil pertanian,” kata Dedi Nursyamsi.

Kegiatan pertemuan Poktan dan Gapoktan, dijadwalkan rutin dan dilakukan minimal 1 (satu) kali dalam sebulan, bertempat di rumah pengurus dan anggota poktan secara bergilir. Pertemuan rutin merupakan salah satu indikator dalam kelompok tani sebagai wadah belajar, karena dalam pertemuan rutin anggota kelompok memperoleh berbagai informasi baru, baik melalui penyuluhan maupun diskusi bersama anggota yang lain mengenai masalah-masalah usahataninya serta mendapatkan solusi dari penyuluh. Penyuluh sebagai problem solver.

Selain itu penyuluh mendampingi petani melakukan peminjaman modal usahataninya ke pihak perbankan melalui dana KUR. (SD/NF)